Instrumen Lebih Besar,Pakai Dingklik Untuk Menjangkau

Anak-anak generasi Z atau yang lahir pada1998 keatas, tidak hanya mengenal gadget saja. Puspita Laras, yang merupakan kelompok karawitan adalah buktinya. Para personelnya adalah anak-anak usia SD.

Ahmad Syarifudin, Sleman

Gendhing Lesung Jumengglung mengawali persembahan para pengrawit cilik yang tergabung dalam Puspita Laras. Sabtu malam (25/8) mereka menjadi pembuka perayaan HUT ke-73 RI di Mancasan Kleben Pandowoharjo Sleman.

Tangan mereka tampak cekatan memainkan instrumen masing-masing sekalipun terlihat cukup besar jika dibandingkan dengan tubuh mereka. Beberapa menggunakan dingklik, agar dapat menjangkau seluruh nada dengan optimal. Berkali-kali mereka menoleh ke not angka yang diletakkan di samping dingklik, memastikan not yang mereka mainkan tepat. Ya personel Puspita Laras memang masih anak-anak.

Maretha Syifa, salah seorang pemain saron, yang sudah dua tahun bergabung mengaku, pertama kali kesulitan memainkan saron.Itu karena satu tangan memainkan nada sedangkan yang lain harus meredam. Sama dengan Septi Dwi Riyani, yang mengalami kesulitan serupa.
“Pokoknya, yang penting mereka senang dulu,” katanya.

Menanamkan rasa suka pada lagu-lagu jawa inilah yang menjadi batu loncatan pertama agar mereka dapat memahami keindahan musik karawitan. Lagu-lagunya pun dipilih yang dekat dengan dunia mereka, yakni lagu-lagu dolanan. Menurut pendiri Puspita Laras Sri Mulyanto, kelompok karawitan cilik itu terbentuk sekira empat tahun lalu. Harapanya agar tunas-tunas muda dapat ambil bagian dalam melestarikan kebudayaan Jawa.

“Kalau dari kecil sudah ikut, sampai dewasa akan terus ikut,” terangnya.

Pria yang akrab disapa Pak Yanto itu mengumpulkan anak-anak yang sudah lancar baca-tulis di padukuhan tersebut untuk dilatih karawitan. Sebab, mereka dituntut untuk bisa membaca not angka. “Setidaknya anak-anak yang sudah menginjak kelas 4 SD,” jelasnya.

Awalnya, ia mengaku kesulitan mengajarkan anak-anak yang sama sekali tidak pernah memegang alat musik.Tapi jerih payahnya terbayar. Kini mereka bisa bersaing dengan kelompok karawitan senior yang sudah berpengalaman. Syifa dan Septi pun siap meraih prestasi-prestasi lainnya yang lebih besar. (pra/mg1)