LUAS Padang Arafah mencapai sekitar 12,25 kilometer persegi. Berjarak sekitar 25 kilometer dari Masjidil Haram. Suasana Padang Arafah Senin (14/11/2011) siang itu terlihat sangat lengang. Hanya satu dua kendaraan melintas di wilayah itu.

Sama sekali tidak terlihat tenda jamaah haji di tempat itu. Bahkan bekasnya pun tidak ada. Padahal, beberapa hari lalu, 10 Dzulhhijah, puluhan ribu tenda semi permanen berdiri di tempat itu.

Kini, hanya bangunan permanen seperti WC umum dan toilet yang masih terlihat di tempat padang pasir tersebut. Juga pohon-pohon Soekarno yang menghijaukan Padang Arafah.

Dinamakan pohon Soekarno karena presiden pertama RI itulah yang kali pertama menanam dan membawa bibitnya di tempat itu. Pohon ini sangat tahan panas dan tidak memerlukan air banyak hingga cocok ditanam di daerah gurun.

Tumpukan sampah terlihat di hampir semua penjuru Padang Arafah. Di beberapa tempat bahkan terlihat gunungan sampah. Puluhan petugas kebersihan berseragam kuning bekerja keras mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan di hampir semua Padang Arafah.

‘’Pada18 Dzulhijjah (16/11) sampah harus sudah bersih dari Padang Arafah. Agar tidak menumpuk dan bisa menyebarkan berbagai penyakit,” tutur Ustad Munir Djamil, seorang pembimbing haji Indonesia.

Satu-satunya tempat paling bersih dan banyak dikunjungi para peziarah di Padang Arafah adalah Jabal Al Rahmah. Tempat ini dinilai paling mustajab saat wuquf. Bagi siapa yang ingin mendapat jodoh bisa berdoa di tempat ini. “Insya Allah dikabulkan. Tapi, kalau hari biasa tidak dijamin,’’ kata Ustad Idris, tour leader rombongan haji jamaah Shafira.

Jabal Rahmah terletak di timur Padang Arafah di Kota Makkah. Sesuai namanya, jabal berarti bukit atau gunung, sementara Rahmah adalah kasih sayang. Jabal Rahmah berupa bukit batu. Tingginya sekitar 70 meter dan bisa dinaiki melewati batu-batuan terjal. Perjalanan dari bawah kaki bukit hingga ke monumen Adam dan Hawa sekitar 15 menit.

Di Puncak Jabal Rahmah terdapat monumen dari beton persegi empat dengan lebar kurang lebih 1,8 meter. Tingginya delapan meter. Jalan menuju puncak bukit ini berupa tangga berundak dengan 168 anak tangga. Bukit ini diyakini sebagai pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari surga karena melakukan kesalahan memakan buah terlarang khuldi akibat bisikan setan terkutuk. Setelah keduanya bertaubat memohon ampun, akhirnya atas izin Allah SWT mereka dipertemukan di Puncak Bukit Jabal Rahmah ini. Setelah pertemuan tersebut Nabi Adam dan Hawa melanjutkan hidup mereka dan melahirkan anak-anak keturunannya sampai sekarang.

Jabal Rahmah juga merupakan tempat wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad SAW saaat melakukan wukuf. Wahyu itu termuat dalam Alquran surah Al Maidah ayat 3.

Siang itu ribuan peziarah ada yang naik sampai ke puncak bukit. Sebagian lainnya hanya puas mengambil gambar atau berfoto berlatar belakang Jabal Al Rahmah.

Di sini peziarah juga bisa berfoto berlatar belakang onta. Atau naik onta yang sudah dihias sedemikian rupa. Tarifnya sekitar 10 real atau sekitar Rp 25 ribu ketika itu.

Peziarah perlu hati-hati menggunakan jasa tukang foto amatir di sini. Karena banyak modus penipuan terjadi. Misalnya, jangan mau difoto fotografer amatiran yang banyak beroperasi di sini tanpa sepakat dulu soal harga. ‘’Kalau langsung foto nanti harganya bisa berlipat kali. Makanya, jangan mengiyakan saja saat difoto. Tapi, harus ditanya berapa harganya,’’ ingat Ustad Idris.

Yang lebih parah, di kawasan ini juga banyak copet yang menyaru sebagai pengunjung. Mereka berpura-pura sebagai pengemis. Tapi, begitu diberi dan pemberi lengah, maka dompet bisa amblas. Itu dialami salah seorang peziarah Indonesia.

Beruntung seorang ustad pembimbing diberitahu lalu menggeledah orang peminta tadi. Saat digeledah ditemukan dompet pemberi tadi. ‘’Yang penting dompetnya kembali. Kalau lapor polisi urusannya bisa panjang,’’ ujar Ustad tadi. Para pencopet umumnya dari India dan Pakistan. Mereka bekerja berkelompok.

Suasana lengangn juga terlihat di Mudzalifah dan Mina. Mina yang pada 11 – 13 Dzulhijjah dipadati jutaan jamaah hingga jalanan macet total saat lempar jumrah, Senin (14/11/2011) sangat sepi.

Ribuan tenda putih yang tersebar di kawasan Mina juga kosong melompong. Sebagaian tirainya disingkap separo hingga tampak kosong di dalamnya. Juga tampak terowongan pintu Mina yang dulu banyak memakan korban jiwa akibat jamaah saling berdesakan.

Tempat wisata religius yang juga banyak dikunjungi jamaah haji adalah Jabal Sur. Di tempat inilah Nabi Muhammad SAW pernah bersembunyi beberapa hari guna menghindari kejaran suku Qurais yang akan menangkapnya.

Selama Nabi Muhammad SAW bersembunyi di Gunung Sur, putri Abu Bakar Sidiq, Siti Asma, yang selalu mengirim makanan dengan naik ke Jabal Sur. Padahal, saat itu kondisi Siti Asma sedang mengandung tujuh bulan. Itu karena anak Abu Bakar Sidiq terlalu sayang sama nabi.

‘’Alhamdulillah saat Siti Asma melahirkan prosesnya lancar. Kelak anak turunan Siti Asma menjadi salah seorang khalifah yang merenovasi Masjidil Haram,’’ jelas Ustad Idris.

Lokasi persembunyian Nabi Muhammad di Jabal Sur akhirnya diketahui suku Qurais. Namun saat mereka mendatanginya terkecoh oleh sarang laba-laba di mulut gua, di mana nabi bersembunyi. Serta banyaknya burung yang bertelur di situ. Suku Qurais pun menganggap tempat itu belum pernah dimasuki orang, termasuk nabi. Padahal, nabi bersembunyi di gua tersebut. ’’Ini kebesaran Allah yang selalu melindungi Rasul dari kejaran orang kafir,’’ tambah Ustad Idris.

Letak Jabal Sur berada di tepi jalan raya. Meski lokasinya cukup tinggi, sebagian jamaah haji tetap mendaki Jabal Sur untuk bisa merasakan betapa susahnya mendaki lokasi di mana Nabi Muhhamad SAW bersembunyi dari kejaran orang-orang kafir yang dipimpin Abu Lahab dan Abu Jahal. (yog/bersambung)