JOGJA – Bulan Pancasila yang dimulai 1 Juni 2018 lalu, mencapai puncaknya pada sabtu malam (25/8). Rangkaian acara ditutup dengn Malam Puncak Bulan Pancasila di Pagelaran Keraton Jogjakarta. Beberapa pemenang lomba-lomba yang telah diselenggarakan mendapatkan hadiah.

Ketua Panitia Eddy Purjanto mengatakan, Bulan Pancasila berlangsung hampir tiga bulan. Semuanya meliputi 17 kegiatan dan melibatkan berbagai elemen masyarakat. “Sambutan meriah dari masyarakat,” kata Eddy.

Tidak hanya itu, kegiatan juga merambah ke desa-desa dan menyerap aspirasi dari diskusi di masyarakat. Menurut Edy,kegiatan yang didukung Pusat Studi Pancasila UGM, diharapkan banyak mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila di pedesaan dan perkotaan. Edy mencontohkan dahar kembul yang bisa mengumpulkan 357 tumpeng dari target awal 170. “Jogjakarta masih guyub. Ini dorongan kepada masyarakat untuk terus mengimplementasikan nilai Pancasila,” ujarnya.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X dalam sambutannya mengatakan, generasi saat ini jangan sampai mengebumikan Pancasila. Namun menghidup-hidupi dan membumikan Pancasila. “Sebagai upaya menangkal paham-paham yang ingin mengganti pilar negara,” pesannya.

Pancasila, lanjut HB X, berasal dari akar budaya bangsa yang kuat. Sehingga mampu mengangkat rumah bersama bernama Indonesia.
Tapi diaukinya tantangannya tidak mudah. Generasi saat ini harus bisa melihat nilai guna Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan yang disampaikan harus bisa diterima nalar dan tidak sekadar slogan.

“Generasi muda harus sadar bahwa Pancasila menjadi ideologi hidup,” tuturnya.

Pancasila, terang Raja Keraton Jogja itu juga harus bisa menjadi motor penggerak masyarakat merespon perkembangan zaman. Diantaranya pemimpin di semua jenjang harus berdaya upaya merealisasikan nilai sila ke lima. Sebagai sila paling bawah yang harus ditapaki dan menjadi pijakan sebelum naik ke sila selanjutnya.

“Keadilan sosial dalam bidang ekonomi adalah tuntutan fundamental hingga selanjutnya sampai dengan sila pertama,” jelasnya.

Sementara itu juri lomba mural Kuss Indarto melihat karya peserta mural yang tersebar di ruang publik, membuktikan bahwa ruang-ruang seni rupa tidak mutlak harus terkungkung di gedung-gedung pameran atau institusi pendidikan seni. Karya seni bisa hadir secara wajar dan natural di tengah masyarakat.

“Masyarakat bisa tampil sebagai aktor yang memproduksi karya seni. Kondisi ini akan semakin menancapkan kesadaran berkesenian,” ungkapnya. (riz/pra/mg1)