SLEMAN – Sebagai daerah rawan, kesadaran mitigasi bencana di DIJ ternyata masih rendah. Itu ditandai dengan tidak berfungsinya lima early warning system (EWS) di wilayah Cangkringan. Padahal, perangkat sistem di kawasan rawan bencana (KRB) ini berfungsi sebagai penanda bahaya erupsi Merapi.
Komandan Unit Cangkringan SAR DIJ Joko Irianto membenarkannya. Menurutnya, lima unit EWS ini rusak karena usia pakai. Itu diperparah dengan minimnya perawatan.

”Seluruhnya bantuan dari JRF (Java Recontruction Fund),” jelas Joko, Sabtu (26/8).

Joko Irianto (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Kerusakan lima EWS ini diketahui saat erupsi freatik Mei lalu. Saat itu perangkat EWS tidak berbunyi. Tidak mengeluarkan bunyi peringatan. Kendati begitu, Joko tidak begitu khawatir. Sebab, perangkat EWS yang terpasang di beberapa lokasi masih berfungsi normal.

”Waktu 17 Agustus kemarin sempat dinyalakan secara serentak,” ujarnya.
Di KRB, fungsi EWS sangat vital. Menjadi pemandu evakuasi warga di kawasan lereng Merapi saat terjadi erupsi. Itu terlihat saat erupsi 2010. Saat itu tidak sedikit warga yang menjadi korban erupsi 2010. Itu lantaran minimnya EWS. Warga tidak mengetahui jika terjadi erupsi dadakan.

Bagaimana cara kerja EWS? EWS mengandalkan informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIJ. Terutama informasi terkini rawan bencana praerupsi. Bila berbahaya, sirine EWS berbunyi sebagai penanda evakuasi warga.

Karena itu, Joko menegaskan bahwa tim SAR maupun relawan terus berkoordinasi. Dengan posisi kondisi siaga. Mereka tidak hanya melakukan patroli. Lebih dari itu, juga ronda malam sebagai antisipasi. Meski belum ada perubahan status Merapi oleh BPPTKG DIJ.

”Masih tetap memantau perkembangan dulu untuk mengambil kebijakan SAR unit Cangkringan,” katanya.
Pada bagian lain, hasil pemantauan BPPTKG DIJ kemarin kembali menunjukkan ada peningkatan volume kubah lava. Pantauan per 26 Agustus, volume kubah lava mencapai 36 ribu meter kubik. Ini meningkat dibanding pantauan sehari sebelumnya. Di mana sebesar 26 ribu kubik.

Berdasarkan data BPPTKG DIJ, pertumbuhan harian tergolong fluktuatif. Pada 25 Agustus mencapai 2.600 meter kubik per hari. Sehari kemudian menjadi 4.000 meter kubik perhari. Kendati begitu, pertumbuhan kubah lava masih tergolong normal. Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG DIJ Agus Budi Santoso memastikan aktivitas tergolong rendah. Meski ada pertumbuhan setiap harinya. ”Volumenya terhitung kecil, sehingga fluktuasinya terlihat sekali,” jelasnya. (dwi/zam/mg1)