BANTUL-Berawal dari mencoba peruntungan baru, Widodo mulai menggeluti usaha pahatan batu sejak 16 tahun silam. Sebelumnya, dia berjualan pelbagai macam kerajinan. Tapi semakin lama, ada rasa ketertarikan pada seni pahat batu menjadi semakin kuat.

Saat mulai merintis, pemilik galeri Mata Wayang di Kasongan ini membuat patung manusia abstrak. Ukurannya bervariasi, mulai dari satu meter hingga 10 sentimeter. “Setelah itu dan membuat air mancur dari batu dan jenis lainnya,’’ jelasnya.

Untuk berkembang, dia terus berinovasi. Mulailah dia memroduksi aksesoris taman, wastafel, lampu, dan pot dari sisa batu pahatan yang tidak terpakai. Agar kualitasnya bagus, dia menggunakan dua jenis batu, yaitu batu paras dari Wonosari dan batu breksi dari Tebing Breksi.

Kini usahanya terus berkembang. Widodo juga menekankan pada perminataan pelanggan. Permintaan inilah yang kemudian menjadi sebuah tantangan. Karena setiap pesanan harus membuat sesuatu yang baru.”Inilah tantangannya,’’ tegasnya.

Peminat batu pahat ini biasanya datang dari kalangan perhotelan dan perumahan di pasar dalam negeri. Bahkan sudah merambah ke pasar internasional. Negara yang rutin memesan yakni Perancis, Amerika, dan Australia. “Terakhir pemesanan, Perancis memesan satu kontainer dan Amerika 25 kontainer,” jelasnya.

Setiap pahatannya dibanderol dengan harga paling murah Rp 8 ribu untuk ukuran delapan sentimeter. Sedangkan paling mahal mencapai Rp 5 juta. (ega/din/mg1)