SLEMAN – Suara berondongan tembakan menggema di sekitaran Monumen Plataran Selomartani Kalasan. Banyak orang berpakaian tentara gaya kolonial Belanda berkeliaran. Nampak pula ratusan orang berpakaian tradisional turut berkerumun.

Saling serang diselingi suara tembakan terus menerus terjadi. Banyak darah mengucur. Banyak warga yang menjadi korban. Tapi para pejuang nampak tidak mau menyerah hingga akhirnya Belanda dipukul mundur.

Demikian adegan suasana perang di masa penjajahan Belanda ditampilkan dalam sosiodrama. Kabid Sejarah, Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan DIJ Erlina Hidayati Sumardi mengatakan sengaja memilih sosiodrama sebagai upaya mengenalkan sejarah.

“Sosiodrama digelar untuk memeringati peristiwa bersejarah masyarakat mempertahankan kemerdekaan,” kata Erlina, Sabtu (26/8).

Pengenalan sejarah yang dapat dilakukan lewat berbagai cara. Tidak lagi monoton lewat buku namun bisa merambah ke bentuk lain. “Bisa lewat penampilan drama,” ujar Erlina.

Semua yang terlibat dalam sosiodrama merupakan warga sekitar Monumen Plataran. Peristiwa Plataran dipilih karena peristiwa tersebut merupakan peristiwa heroik mempertahankan kemerdekaan di DIJ.

Peristiwa tersebut terjadi ketika Belanda menyerang Dusun Plataran, Desa Selomartani, Kalasan pada 24 Februari 1949. Terjadi pertempuran yang memakan korban dari pejuang yang ikut bertempur. “Termasuk para taruna juga ikut bertempur,” kata Erlina.

Ada delapan orang meninggal dari TNI saat pertempuran berlangsung. Mereka terdiri dari lima orang kadet, dua perwira instruktur dan seorang tentara pelajar. Memperingati peristiwa tersebut, warga menggelar sosiodrama diperankan sekitar 100 orang.

Salah seorang pemain, Nur Abu Hasan mangaku bangga bisa tampil dalam sosiodrama tersebut. Waktu satu bulan berlatih tidak sia-sia. “Saya senang dan bangga,” tutur pria paro baya tersebut.

Sosiodrama bisa memberikan pemahaman generasi muda tentang peristiwa Plataran. “Anak muda bisa mengingat betapa beratnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan,” kata Nur.

Selain sosiodrama, ditampilkan juga pameran sejarah Monumen Plataran dan lomba melukis gerabah. Acara digelar selama tiga hari. Juga diresmikan komunitas historia yang dibentuk warga Plataran. (har/iwa/mg1)