Gempuran produk impor membuat Fauzan Muarifin,49, prihatin. Sementara produk lokal tak kalah bagu skualitasnya dari produk impor. Dari situlah Fauzan terdorong membangun kekuatan ekonomi wilayah yang dipimpinnya lewat gerakan Jogoriko.

SUKARNI MEGAWATI, Bantul

Mentari yang kian tinggi tak menyurutkan langkah Fauzan Muarifin untuk terus melangkah. Satu per satu stan pameran dihampirinya. Tak satu pun stan di gelaran Pasar Rakyat Sedayu terlewatkan. Padahal, tak kurang 150 stan ada di sana. Sebagai camat Sedayu, Fauzan sangat konsisten mendukung masyarakatnya yang bergelut di dunia usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Pasar Rakyat Sedayu menjadi terobosan yang dibuat Fauzan untuk meningkatkan perekonomian warganya. Jajan Tonggo Nglarisi Konco (Jagoriko) menjadi jargonnya. Jajan berarti membeli, tonggo (tangga) adalah tetangga, sedangkan nglarisi artinya membuat laris, dan konco (kanca) bermakna teman. Jika diartikan secara utuh kurang lebih membeli produk/dagangan milik tetangga agar dagangan teman sendiri terjual laris.

Jargon Jagoriko terus ditanamkan oleh Fauzan kepada warganya sejak setahun lalu. Sejak dia diberi mandat menjabat camat Sedayu oleh Bupati Bantul Suharsono. Lewat jargon itu, Fauzan berharap bisa menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya mencintai produk dalam negeri. Terutama produk lokal UMKM. “Karena masyarakat saat ini cenderung memilih produk luar (impor). Baik barang maupun cara transaksinya,” sesal Fauzan saat berbincang dengan Radar Jogja di Pasar Rakyat Sedayu yang digelar di halaman kampus 1 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Sabtu (26/8).

Jagoriko juga menjadi gerakan arus bawah membangun nasionalisme bidang ekonomi. Fauzan berangan-angan ke depan Jagoriko tak sebatas menjadi gerakan masyarakat Sedayu. Tapi bisa mencakup level provinsi, bahkan nasional. “Program ini harus bisa dirasakan juga oleh seluruh masyarakat Indonesia,” ujar pria yang berulang tahun tiap 16 Februari.

Ada berbagai potensi yang bisa dikembangkan di Sedayu. Terutama kekayaan kulinernya. Seperti emping garut, ingkung ayam, dan bakpia Kemusuk. Wilayah Sedayu yang diewati jalan nasional menjadi keuntungan tersendiri bagi Fauzan. Potensi unggulan masyarakat Sedayu akan lebih mudah digaungkan. Apalagi jalan nasional yang membelah wilayah Sedayu bisa dibilang menjadi akses utama pengendara kendaraan dari wilayah Purworejo/Kulonprogo menuju Sleman dan Kota Jogja. Maka tak muluk jika Fauzan sangat optimistis produk UMKM di wilayahnya bisa cepat berkembang dan mandiri.

Meski produk lokal menjadi andalan, Fauzan tak menutup mata dengan kemajuan teknologi modern. Dia justru berupaya mengolaborasikan keduanya. Dengan mengikuti pola transaksi secara online lewat internet. “Saya mendorong warga yang punya produk supaya di masukkan online. Biasakan cash on delivery (COD) lebih baik dan aman,” katanya.

Fauzan mengaku bangga akan kepekaan warganya terhadap kemajuan teknologi. Bahkan sekarang sudah ada komunitas warga Sedayu yang rutin memamerkan produk secara online lewat media sosial Facebook. “Warga setia online” adalah label komunitas itu. “Dalam setahun terakhir tak kurang 22.380 member bergabung di komunitas ini. banyak produk asli Sedayu yang sudah di-upload,” ungkap Fauzan.

Selain kuliner, Sedayu juga memiliki potensi kerajinan (handycraft). Produk paling menonjol berupa kerajinan sangkar burung, rajut, dan olahan sampah. Beberapa warga Sedayu juga ada yang menggeluti seni dan membuat lukisan pasir. Seluruh potensi itulah yang menjadi unggulan Sedayu. “Semoga lewat Jagariko, UMKM Sedayu terus meningkat. Baik kualitas maupun kuantitasnya,” harapnya.

Dengan kolaborasi Jagoriko dan pasar rakyat, Fauzan ingin menggali lebih banyak potensi lokal Sedayu. Dia menyebut, keterlibatan 150 stan UMKM di pasar rakyat belumlah maksimal. Fauzan mengklaim itu hanya sepersepuluh dari total potensi UMKM di Sedayu. “Makanya saya ingin merutinkan pasar rakyat untuk menggugah semangat kewirausahaan masyarakat Sedayu,” kata bapak dua anak itu.

Pasar Rakyat Sedayu mengundang decak kagum Rektor Universitas Mercu Buana Yogyakarta Alimatus Sahrah. Alimatus melihat antusiasme masyarakat sangat tinggi. Bahkan melebihi target pencapaian yang diharapkannya. Kolaborasi masyarakat mahasiswa juga mulai terbentuk.

“Merakyat sekali. Ke depan kalau bisa ada kekhasan yang lebih ditonjolkan. Kalau cuma pasar rakyat seperti Sunday morning (sunmor), di tempat lain juga sudah banyak,” katanya.

Yang jelas ada keuntungan lain di balik pasar rakyat di halaman kampus UMBY. Pasar tersebut bisa menjadi laboratorium lapangan bagi mahasiswa untuk melatih jiwa kewirausahaan secara nyata. Baik dari segi produksi, pengemasan barang, hingga pemasarannya. (yog/mg1)