SLEMAN-Pemerintah Kabupaten (Pemkab ) Sleman terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas usaha kecil menengah (UKM) di bidang kerajinan, khususnya batik. Salah satu yang dilakukan pameran Gebyar Batik Sleman 2018 di Pawon Semar, The Alana Hotel.

Pameran yang diselenggarakan sejak Jumat (24/8) hingga Minggu (26/8) tersebut diikuti 75 stan penggiat UKM di Sleman batik. Mereka berasal dari UKM yang dikelola secara mandiri hingga berkelompok. Mereka menunjukkan karya batik dengan ciri khas dan motif masing-masing. “Yang kami utamakan tetap khas Sleman, yakni motif Parijotho Salak. Tapi ada juga yang punya ciri khas seperti motif bambu, motif sirih, atau motif alusan,” ujar Kasi Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan Muda Disperindag Sleman, Herry Murthala, Sabtu (25/8).

PROSPEKTIF: Sebagian batik-batik produksi perajin Sleman yang dipamerkan di ajang Gebyar Batik Sleman 2018 di Pawon Semar, The Alana Hotel. (ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA)

Melalui pameran ini diharapkan UKM-UKM batik Sleman bisa menembus pasar yang lebih luas. Termasuk lewat pasar online. Disperindag Sleman memang mengarahkan para penggiat UKM batik ini untuk bisa memasarkan secara online. Mereka akan digandeng lewat pelatihan di Bimtek UGM. “Ini supaya mereka siap untuk memasarkan online, punya website, dan market place sendiri,” jelas Herry.

Herry menambahkan, jika pegiat UKM sudah siap dengan pemasaran secara online, mereka bisa menguatkan brand sendiri.  Yang penting adalah bagaimana mereka bisa memromosikan dan menunjukkan produk sendiri. Diakui Herry kelemahan para pengrajin batik saat ini adalah belum adanya kemampuan untuk merancang dan menjahit batik menjadi pakaian.

Oleh karena itu, panitia Gebyar Batik Sleman 2018 mengajak para desainer untuk merancang batik daerah dan menampilkannya pada ajang  fashion show.

Pameran dan bazar batik ini diakui oleh Triyana, salah seorang pengrajin batik dari kelompok UKM Dewi Kunthi, membawa keuntungan. “Produk kami semakin dikenal dan pesanan kainnya lumayan meningkat,’’ ujarnya.

Triyana merupakan satu di antara 10 perajin batik yang aktif ikut pelatihan di rumah workshop Dewi Kunthi, Murangan, Sleman. Kelompok Dewi Kunthi pun turut menampilkan rancangan batik mereka di ajang fashion show pada Jumat (24/8) lalu. “Motif khas dari Dewi Kunthi adalah daun sirih,’’ papar Triyana.

Menurut Triyana, Dewi Kunthi memroduksi batik tulis dan batik cap. Sedangkan untuk pewarnaan mereka menggunakan warna dari alam seperti akar atau warna sintetis. Harga tiap kain batik pun berbeda-beda. “Tergantung warna dan caranya. Semakin banyak warna biasanya semakin mahal. Apalagi untuk batik tulis,’’ jelasnya. (cr9/din/mg1)