SLEMAN – Bicara soal batik tak bisa dilepaskan dari Jogjakarta. Pada 2 Oktober 2009 UNESCO menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi. Sementara batik merupakan salah satu kekayaan tradisional asli Jogjakarta.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIJ GKR Hemas bahkan menyebut batik Jogjakarta sebagai induk dari batik-batik di daerah lain. “Penilaian ini berdasarkan sifat tradisionalnya,” ujar Hemas saat pembukaan Jogja International Batik Biennale – Gebyar Batik Sleman 2018 di Pawon Semar, The Alana Hotel, Sleman Jumat (24/8).

Turut hadir di acara tersebut Bupati Sleman Sri Purnomo dan Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun.

KHAS SLEMAN; Ketua Dekranasda DIJ GKR Hemas melihat produk batik sinom parijotho salak di salah satu stan pameran Gebyar Batik Sleman 2018 di The Alana Hotel Jumat (24/8). (NANANG FEBRIYANTO/RADAR JOGJA)

Menurut Hemas, batik Jogjakarta beda dengan produk Pekalongan, Rembang, atau Madura. Baik motif maupun proses pembuatannya. Keberadaan warisan adiluhung itu diperkuat dengan keberadaan Balai Besar Kerajinan dan Batik di Jogjakarta. Yang kerap menyelenggarakan pendidikan batik dalam upaya pelestarian warisan nenek moyang itu. “Ini yang membedakan sifat batik Jogjakarta dengan daerah lain,” tuturnya.

Penyelenggaraan Gebyar Batik Sleman 2018 sekaligus sebagai upaya mempertahankan predikat Jogjakarta sebagai Kota Batik Dunia (World Batik City). Adapun acara rutin dua tahunan kali ini mengusung tema “Innovation for Sustainable Future”. Gebyar Batik Sleman 2018 berlangsung hingga Minggu (26/8).

Sri Purnomo mengatakan, Pemkab Sleman berkomitmen menjaga batik sebagai warisan budaya dunia ini. Lewat acara ini pemkab ingin lebih mengenalkan tradisi batik kepada dunia. Bukan sekadar berkontribusi pada perkembangan batik di Indonesia. Adapun salah satu karya batik yang turut dipamerkan dalam acara ini adalah Sinom Parijotho Salak. Batik ini khas Sleman. Motifnya berupa perpaduan tanaman parijotho dan buah salak yang banyak tumbuh di lereng Gunung Merapi.

Komitmen pemkab ditunjukkan lewat aneka program pendampingan sentra usaha mikro kecil menengah (UMKM) batik. Baik melalui dinas perindustrian dan perdagangan, dinas koperasi dan usaha kecil menengah, serta dekranasda. Penggunaan bahan pewarna alami merupakan salah satu program yang terus digiatkan. “Menggunakan potensi alam, seperti dedaunan atau akar-akaran,” tuturnya.

Lewat gebyar batik bupati berharap kesejahteraan masyarakat meningkat. Khususnya para pelaku usaha kecil batik.

Gebyar Batik Sleman 2018 disemarakkan dengan beragam kegiatan. Seperti fashion show, lomba desain, pameran batik, hingga kegiatan membatik oleh 60 pelajar se-Jogjakarta.

Sissy Sulistia,20, salah seorang perancang busana peserta fashion show, mengaku sangat antusias mengikuti gebyar batik yang diselenggarkan untuk kali kedua ini. “Saya berharap batik khas Sleman bisa go international,” ujarnya. (cr9/yog/fn)