Bermodal Peralon Bekas dan Mata Bor Buatan Sendiri

Tiap kemarau puluhan hektare tanaman padi di wilayah Prambanan, Sleman mengalami puso. Wiji Lestari berinisiatif membuat sumur bor sederhana untuk mengatasi musibah tahunan itu. Berikut kiprah pemuda pelopor Provinsi DIJ itu.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

USIANYA masih muda, 23 tahun. Tapi, sumur bor karyanya mampu menjadi oase di wilayah Prambanan, kawasan yang selalu dilanda kekeringan tiap musim kemarau. Setidaknya, sumur bor yang dibuat dengan alat sederhana itu bisa mengatasi kekeringan lahan pertanian di Dusun Gamparan, Sumberharjo, Prambanan.

INOVATIF: Wiji Lestari menunjukkan mata bor karyanya. (JAUH HARI WAWAN S/RADAR JOGJA)

Wiji, begitu dia biasa disapa, sejak 2013 berupaya mengatasi lahan kering akibat kemarau. Kondisi itu membuatnya prihatin. Apalagi tak semua wilayah Sleman yang dilanda kekeringan saat kemarau selalu nihil air. Hanya petani Prambanan yang setiap tahun mengalami krisis air. Demikian juga masyarakat setempat. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih saja masih banyak yang mengandalkan bantuan droping air. Atau membeli air dari tangki swasta.

Menurut Wiji, krisis air turut menyebabkan minimnya anak muda Prambanan yang berminat di bidang pertanian. Mereka lebih pilih merantau ke luar kota atau bekerja di pabrik. “Padahal lahan pertanian di sini (Prambanan) bisa menghasilkan income lumayan jika dikelola dengan baik,” ujarnya kepada Radar Jogja belum lama ini.

Wiji lantas mulai berpikir sejak itu. Membuat sumur bor dengan kedalaman ratusan meter tentu membutuhkan biaya besar. Dia pun memutar otak supaya bisa membuat sumur bor dengan bahan-bahan sederhana dan mudah didapatkan. Ide itu akhirnya terwujud. Bermodalkan peralon bekas, besi, pompa air, dan besi serta mata bor buatan sendiri. Menariknya, Wiji juga memanfaatkan dua batang antena TV bekas sepanjang 15 sentimeter. Antena ini digunakan untuk mendeteksi sumber air yang “tersembunyi” di dalam tanah. Kedua antena dibengkokkan sehingga membentuk huruf L, lalu dimasukkan ke dalam spidol bekas. Cara ini ternyata bukan mitos. Wiji membuktikannya sendiri.

Lalu bagaimana cara menemukan air dengan alat itu? Prinsipnya, kedua antena dipegang sejajar. Salah satu batang diposisikan lebih tinggi dari antena yang satunya. “Kalau ada sumber air, alatnya otomatis bergerak ke kanan dan ke kiri. Selain itu denyutnya berbeda,” jelasnya.

Saat menggunakan alat itu, ungkap Wiji, harus sambil menahan napas. Sebab, jika badan tidak tenang dan ada gerakan sekecil apa pun bisa memengaruhi hasil. “Setelah ketemu barulah di bor,” kata Wiji sambil memeragakan penggunaan alat itu.

Berkat perempuan penyuka olahraga itu lahan pertanian di desanya tak lagi ada yang mengalami kekeringan sejak 5 tahun belakangan ini.

Pengeboran butuh waktu sekitar dua jam. Tergantung lokasi pengeborannya. Meski sumur bor buatan Wiji hanya berkedalaman 8 – 12 meter, hasilnya cukup menjanjikan. Karena itu banyak warga desa tetangga yang memintanya membuatkan sumur bor serupa. Dari uji coba di lahan sendiri, Wiji telah membuat sedikitnya 97 sumur bor sampai sekarang. “Dulu lahan kami kering. Tapi sejak ada sumur bor jadi hijau semua,” ujarnya. “Yang jelas, sumur bor ini lebih murah dibanding sumur yang digali manual,”sambung Wiji.

Dampak paling besar dirasakan para petani. Jika dulu lahan seluas 500 meter persegi rata-rata bisa menghasilkan panen 200 kuintal. Sejak ada sumur bor produktivitas hasil pertanian meningkat dua kali lipat. Petani bisa dua kali tanam dan dua kali panen. “Hasil bisa lebih dari 400 kuintal,” ungkap Wiji.

Selain terbukti bisa meningkatkan kesejahteraan petani, keberadaan sumur bor itu diharapkan bisa menggelitik minat anak muda Prambanan untuk bertani. “Saat ini banyak anak muda tak suka bertani. Padahal bertani itu menguntungkan,” katanya yakin. (yog/mg1)