SUASANA lobi apartemen yang ditempati jamaah haji reguler maktab 18 di kawasan Jarwal, Sabtu (12/11/2011) sore itu cukup ramai. Ada jamaah yang duduk-duduk atau sekadar mengobrol. Ada pula yang bersiap ke Masjidil Haram. Beberapa yang lain makan camilan. Dan sebagian membaca Alquran.

“Di sini tinggal ratusan jamaah haji dari maktab 18,’’ kata Nurul Huda , 42 , ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Arafah, kepada penulis.
Nurul kebagian membimbing sekitardua ratus jamaah haji reguler asal Pandaan, Jawa Timur dan sekitarnya. Mereka menempati lantai 15 sampai 17 apartemen tersebut. Masing-masing blok ada sekitar empat lift yang dioperasikan. ‘’Mari kita naik biar sampeyan lebih tahu bagaimana kondisi jamaah kita. Sampeyan juga bisa tanya-tanya langsung pada para jamaah,’’ ajaknya.

Sesampainya di lantai 15, Nurul yang sudah menjadi pembimbing haji reguler sejak 2000 lalu mengetuk sebuah kamar. Saat dibuka, si empunya kamar langsung menyapa. ‘’Assalamulaikum, Gus. Wonten napa (ada apa)?’’ tanya penghuni kamar yang sudah akrab dengan Nurul. Gus adalah panggilan terhormat untuk anak kiai.

Setelah dijelaskan yang datang Jawa Pos dan ingin berbincang, mereka pun dengan ramah mempersilakan masuk kamar berukuran 4 x 6 meter persegi itu. “Mangga-mangga, silakan masuk,’’ kata Kalendro , 43 , asal Dusun Kecicang, Ngesok, Gempol, Pasuruan itu. ‘’Di sini kami sekeluarga. Ada enam orang,’’ tambahnya. Kalendro bersama istri, istri, ibu, adik, paman, serta saudaranya.

Selain terpasang kipas angin, di kamar itu juga ada AC model window. Oleh jamaah AC jarang dinyalakan karena mereka tidak tahan dingin. Sebagai gantinya, mereka lebih suka menyalakan kipas angin. ‘’Kalau AC tidak terbiasa. Terlalu dingin,’’ jawab Kalendro polos.

Di kamar itu ada enam tempat tidur yang ditempatkan tidak beraturan. Berbagai koper, pakaian, jeriken 5 literan tempat air zamzam yang sudah diselotip. Juga seperangkat alat-alat masak. Ada kompor listrik, tempat menanak nasi atau rice cooker, wajan, sotel, dan alat masak lainnya. ‘’Ya, beginilah kondisinya. Kami syukuri saja. Tidur dan masak ya di sini (dalam kamar). Tidak ada masalah,’’ sahut saudara perempuan Kalendro.

“Apakah aktivitas masak tidak menyita waktu beribadah?” tanya penulis. “Tidak. Kami bisa atur. Wong masak cepat kok. Jadi sama sekali tidak mengganggu beribadah. Semua bisa diatur,’’ jawabnya.

Soal belanja bahan baku juga tidak masalah. Setiap hari ada pedagang asal Madura yang menjajakan dagangannya dekat apartemen itu. Harganya juga tidak terlalu mahal dibandingkan di pasar.

‘’Kalau kurang lengkap kami berbelanja di pasar. Tapi, umumnya apa yang kami butuhkan sudah ada. Kami juga bawa terasi dan bumbu masak lain dari kampung. Jadi, masak apa pun bahannya sudah ada,’’ jelasnya.

Begitu penulis datang semua hidangan dikeluarkan. Ada minuman Energen, aneka roti, kue, gabin, kacang koro, juga kurma. ‘’Silakan dicicipi,’’ kata Kalendo ramah. Tapi, karena sedang batuk berat, penulis hanya mencicipi sebagian makanan yang dihidangkan tadi. Sementara istri dan saudara perempuan Kalendro sibuk memasak.

Soal kondisi apartemen, menurut Kalendro, cukup bagus. Begitu juga ketersediaan air, listrik, dan fasilitas kamar mandi juga cukup memadai. ‘’Ya, semuanya fasilitas di sini cukup bagus,’’ akunya.

Saat penulis melongok kamar mandi terlihat cukup bersih. Saat dibuka air krannya mengucur deras. ‘’Supaya tidak antre kami bisa wudu atau mandi dua atau satu jam sebelum waktu salat. Jadi, biar tidak uyel-uyelan,’’ katanya
Sebaliknya, jamaah yang umumnya petani mengaku kagok saat harus naik turun menggunakan lift menuju kamar mereka di lantai 15. ‘’Pertama bingung dan kagok mengunakan lift. Tapi,sekarang sudah terbiasa,’’ ujar Kalendro.

Soal jarak maktab sekitar 1, 3 kilometer dari Masjidil Haram juga dirasakan lumayan dekat. Itu dibandingkan dengan lokasi maktab jamaah haji reguler Indonesia yang lain. ‘’Saya pernah main ke saudara di maktab lain. Lokasinya cukup jauh dibandingkan maktab di sini,’’ tambah saudara Kalendro yang lain.

Untuk salat atau tawaf di Masjidil Haram para jamaah di maktab 18 cukup berjalan kaki sekitar setengah jam. Biasanya mereka datang menjelang salat Asar, disambung Magrib dan Isya. ‘‘Soal ibadah, jamaah reguler nomor satu. Mereka sangat rajin ke Masjidil Haram. Mereka senang bisa naik haji,’’ kata Nurul Huda. ‘’Mereka ini umumnya dari kelas bawah. Ada sopir, tukang batu, atau petani,’’ tambahnya.

Sore itu mereka tidak pergi ke Masdjidil Haram karena ada salah seorang istri jamaah yang meninggal dunia di tanah air. Karena itu jamaah di maktab 18 menggelar tahlil. ‘’Kasihan jamaah yang istrinya meninggal tadi. Saat saya datangi terlihat lenger-lenger. Makanya, kami hibur dan minta diikhlaskan,” ujar Nurul.
Hubungan antar jamaah haji reguler di maktab 18 cukup akrab. Apalagi mereka umumnya dari satu daerah. Satu jamaah dengan jamaah lain tampak guyub. Mereka tolong-menolong dalam berbagai hal. Termasuk jika ada jamaah yang tetimpa kesusahan.

‘’Kami ini haji tirakat (prihatin) karena semua serba pas-pasan. Makanya, antara jamaah haji satu dengan yang lain guyub,’’ kata Nurul.

‘’Ayo makan, Supermi sudah masak,’’ sela perempuan paro baya yang sedari tadi memasak. ‘’Lho, wis mateng tah, Umi? Kok cepat temen. Ya, beginilah suasana jamaah reguler, masaknya cepat kalau ada tamu,’’ puji Nurul.

Sepiring plastik berisi mie goreng ditambah sayuran dan nasi terhidang dalam waktu singkat. Bahkan baru disiapkan selama wawancara sedang berlangsung. Penulis, Nurul Huda dan adiknya, Ustad Achmad Muzakky, yang mengantar penulis begitu menikmati masakan tadi. ‘’Hidangan model begini yang tidak ada di haji plus. Masakan kampung ini yang membuat kami rindu,’’ ujar Nurul.(yog/bersambung)