Gelaran Asian Games 18-2018 di Jakarta-Palembang yang tengah berlangsung berdampak pada roda kompetisi Liga Indonesia. Selama sebulan, kompetisi kasta liga 1 dan 2 Indonesia untuk sementara diliburkan. Bagaimana klub-klub menyikapinya?

Bahana

Ya, jika dihitung secara bisnis jeda kompetisi terbilang lama ini tentunya memberikan kerugian bagi tim. Pemasukan dari tiket pertandingan pun terhenti. Apalagi, klub-klub Liga Indonesia masih mengandalkan pemasukan kandang untuk membiayai operasional tim. Terutama, membayar gaji pemain.
Selain itu, tim juga harus memrogram ulang pola latihan untuk mengisi masa jeda. Ritme pertandingan menjadi tidak teratur, dan hal itu berdampak pada penurunan fisik pemain.

Namun, bagi tim yang melakukan perombakan, jeda kompetisi menjadi berkah tersendiri. Jeda kompetisi, dimanfaatkan para pelatih, untuk menyatukan chemsitry pemain lama dan baru. Seperti terjadi PSS Sleman dan PS Tira.
Seperti diketahui, memasuki putaran kedua Super Elang Jawa-julukan PSS Sleman dan PS Tira merupakan tim yang paling banyak melakukan perombakan. Di kubu PSS, ada enam nama baru sedangkan di PS Tira, melakukan perombakan di empat pemain asing. Hanya Aleksandar Rakic saja yang masih dipertahankan oleh skuad The Young Warriors.

Waktu jeda pun menjadi berkah bagi Pelatih PS Tira Nil Maizar dan pelatih PSS Sleman Seto Nurdiyatara, yang baru dipercaya memegang penuh kendali klub, untuk melakukan perombakan sesuai dengan gaya melatih.

Bahkan, skuad asuhan Nil Maizar samapi melakukan pemusatan latihan di Bogor, Jawa Barat untuk mematangkan skema sebelum komptesi kembali digulirkan.

Nil Maizar menegaskan, pemusatan latihan pada tengah kompetisi sangat menguntungkan bagi skuadnya. Nil Maizar yang belum lama menangani Manahati Lestusen dan kawan-kawan menganggap, jeda kompetisi menjadi keuntungan, untuk membentuk karakter permainan timnya.

”Saya datang ke sini kan saat kompetisi tengah berjalan. Ada waktu libur memberikan kesempatan bagi saya untuk membangun skuad ini,” kata Nil Maizar.

Sedangkan bagi PSS, waktu libur sebulan menjadi momentum menyatukan chemistry antar pemain. Maklum saja, belum padunya permainan skuad Elang Jawa bisa dilihat dari dua laga terakhir setelah dilakukan perombakan. Permainan Jodi Kustiawan dan kawan-kawan, dinilai kurang menggigit.

Melawan tim papan bawah Persiwa Wamena, PSS Sleman hanya unggul tipis 1-0. ”Jeda sebulan cukup untuk membangun koordinasi antar lini dan chemistry sesama pemain,” katanya.

Sedangkan bagi skuad Laskar Mataram- julukan PSIM Jogja, jeda kali ini dijadikan evaluasi atas hasil buruk yang dicapai di dua laga. Kekalahan beruntun dari Blitar United dan PS Mojokerto Putra, telah dievaluasi oleh tim pelatih dan akan dibenahi dalam waktu sebulan ini.

Sementara di sisi lain, bagi PSIM Jogja jeda kompetisi akan dimanfaatkan semaksimal untuk melakukan negosiasi kepada Pemkab Bantul, untuk mendapatkan izin menggunakan Stadion Sultan Agung (SSA), agar bisa digunakan sebagai home base, tim Parang Biru.

”Bagaimanapun SSA memiliki arti yang sangat besar bagi kami. SSA memiliki sejarah tersendiri bagi PSIM. Dan kami masih membutuhkn SSA sebagai home base kami,” kata Manajer PSIM Jogja Erwan Hendarwanto. (din/mg1)