KULONPROGO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo urung mengajukan dana tak terduga tambahan. Droping air bersih masih mengandalkan uang Rp 156 juta dari dana tidak terduga dan bantuan Coorporate Sosial Responsibilities (CSR) sejumlah perusahaan.
“Dana tak terduga senilai Rp 150 juta saya rasa masih cukup hingga akhir September 2018. Alokasi 1.300 tangki air bersih sampai saat ini masih sisa 500 tangki lebih,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo Ariadi, Kamis (23/8).
Menurut dia, jumlah desa yang memohon droping air tidak bertambah, yakni 3.016 kepala keluarga. “Kalau tidak ada hujan di September kemungkinan baru memperpanjang masa tanggap darurat dan mengajukan dana tak terduga tambahan,” ujar Ariadi.

Koordinator Droping Air Tagana Kulonprogo Ibnu Wibowo mengatakan dana droping air masih cukup. Namun persoalannya yakni keterbatasan armada untuk menjangkau daerah sulit (puncak gunung).
“Kami jadwalkan droping air satu minggu dua kali ke Samigaluh. Namun untuk Samigaluh habis di perjalanan karena medannya sulit,” kata Ibnu.
Medan sulit juga ada di Girimulyo. “Dengan kondisi tersebut kami berharap untuk Samigaluh dan Girimulyo bisa mendapat bantuan dari CSR karena jangkauannya sulit,” kata Ibnu. (tom/iwa/mg1)