Masyarakat Diminta Mulai Hemat Air
JOGJA – Puncak musim kemarau pada Agustus, selain menyebabkan kekeringan, juga membawa potensi angin kencang. Itu dikarenakan adanya tekanan angin yang besar dari arah selatan. Terakhir kejadian angin kencang terjadi di daerah pasar Terban Gondokusuman.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Jogjakarta Djoko Budiyono mengatakan saat ini kecepatan angin dari arah selatan cukup tinggi. “Angin dari selatan Jawa kecepatannya mencapai 15-20 knot atau sekitar 36km per jam,” ujarnya, Kamis (23/8).

Menurut dia, dikarenakan adanya angin kencang di musim kemarau ini juga mempengaruhi gelombang laut. “Karena angin ini juga turut serta memicu gelombang, bisa setinggi sekitar 2-3 meter,” tambahnya.

Kondisi itu berpengaruh pada angin di pantai selatan Jawa. Pengaruh terutama bagi nelayan. Djoko menyarankan nelayan agar lebih berhati-hati. “Peluang angin kencang terbesar ada di puncak musim kemarau pada Agustus ini,”ujarnya.

Adanya angin kencang ini, jelas Djoko,bisa datang dengan kecepatan yang cukup tinngi ini dapat berpotensi merusak bangunan. “Kekuatan angin yang di selatan Jawa memang cukup besar, dan berpotensi merusak bangunan,” ujarnya.

Djoko juga menghimbau untuk daerah yang rawan kekeringan agar mulai menghemat air. “Karena curah hujan masih sedikit,” ujarnya.
Sebelumnya Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantara mengatakan butuh solusi yang komprehensif untuk mengatasi kekeringan. Disesuaikan dengan kondisi wilayahnya. Sebab, dampak kekeringan di setiap kabupaten berbeda. Dari itu, solusi penanganan kekeringan ada yang cukup dengan embung. Ada pula yang harus dengan perbaikan saluran.

“Memang Gunungkidul sudah diprediksi dan diperhitungkan,” kata mantan Kepala Bidang Pemerintahan Bappeda DIJ itu. (cr5/pra/mg1)