BANTUL – Lahan untuk Pasar Seni Gabusan (PSG) makin jelas. Pemerintah Desa Timbulharjo menyatakan sudah ada persetujuan dengan Pemkab Bantul terkait pembelian tanah untuk PSG. Kendati sudah menemui mufakat, persetujuan dari Gubernur DIJ yang masih ditunggu.
“Tanah ini kan asalnya dari Sultan Ground. Kami dari desa hanya punya hak untuk mengelola saja. kalau gubernur tidak mengizinkan, maka tidak dieksekusi,” ujar Lurah Desa Timbulharjo Kandar kepada Radar Jogja, Selasa (21/8).

Tanah tersebut masih berstatus tanah kas desa Timbulharjo, dengan luas mencapai 4,5 hektare. Menurut dia, tanah untuk PSG lebih banyak berstatus tanah pelungguh, tapi yang termasuk dalam kas desa cuma sedikit.
Sebagai tanah pengganti, jelas dia, sudah disiapkan oleh Pemkab Bantul. bahkan sudah diberitahukan letak tanah pengganti tersebut oleh Pemkab Bantul. Tapi, Kandar enggan menyampaikan letak persis tanah pengganti tersebut. “Nanti akan berpengaruh pada harga tanah,” terangnya.

Hingga kini, status tanah kas desa yang kini disulap menjadi PSG oleh Pemkab Bantul sudah disewa sejak 15 tahun lalu. Pada dua periode awal tanah PSG disewa dalam lima tahunan dengan biaya sewa Rp 7.000 permeter. Namun dalam perkembangannya, tanah PSG kini disewakan dalam hitungan pertahun.
“Pertahun PemkabBantul menyewa dengan harga Rp 1.525 permeter,” jelas Kepala Urusan Tata Usaha dan Umum Muhammad Nawawi. Dia menegaskan, biaya sewa yang dibebankan kepada pemda Bantul sudah memenuhi aturan. “Kita jalannya lurus-lurus saja, asal sesuai aturan tidak masalah,” lanjutnya.

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi B DPRD Bantul Widodo mengatakan kawasan PSG merupakan kawasan yang cukup strategis jika bisa dikelola dengan baik. Untuk mewujudkan hal ini, harus ada sinergitas yang baik antar-OPD terkait. “Pemerintah seharusnya bisa merangkul pihak lain demi pengembangan PSG,” tegas Widodo.

Selain itu juga bekerjasama dengan asosiasi pengusaha hotel dan restoran DIJ. Wisatawan kemudian bisa diarahkan ke PSG sebagai sentral Bantul. “Jika memungkinkan, setiap wisatawan yang ke Bantul punya pemandu wisata,” usulnya.

Untuk menghidupkan PSG, perlu upaya Dinas Kebudayaan Bantul untuk mengadakan beberapa pentas kesenian khas Bantul di PSG, misal jathilan. Agar bisa menikmati oleh-oleh khas Bantul, pedagang pasar di PSG bisa mengambil barang di beberapa UMKM binaan Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian Bantul.
“Jadi wisatawan bisa menonton pertunjukkan sekaligus berbelanja,” jelasnya. (ega/pra/mg1)