KULONPROGO – Kronologi pencairan dana ganti rugi bandara Kulonprogo bagi Pakualaman sebesar lebih dari Rp 700 miliar belum benar-benar gamblang. Kini muncul persoalan lain terkait kompensasi bagi warga penggarap lahan Pakualamanaat Grond (PAG) berupa dana tali asih sebesar Rp 25 miliar. Seperti diungkapkan David Yunianto, warga Palihan, Temon. David mengaku belum menerima sepeser pun dana tali asih, meski uang ganti rugi untuk Puro Pakualaman telah cair. Setidaknya hal ini diketahuinya dari pemberitaan media massa. Namun, sampai saat ini belum ada komunikasi lanjutan terkait rencana pemberian uang tali asih. “Belum ada yang njawil. Padahal pihak Pakualaman berjanji memberikan tali asih itu jika dana ganti rugi PAG telah cair,” bebernya, Rabu (22/8).

Menurut David, warga Palihan sangat berharap bisa menerima tali asih tersebut. Untuk melanjutkan kehidupan mereka. Terlebih kesepakatan tali asih muncul setelah warga yang tergabung dalam Wahana Tri Tunggal (WTT) berubah pikiran. Adapun WTT sebelumnya menolak keberadaan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Namun kini berbalik dan mendukung pembangunan bandara tersebut.

Dana tali asih tersebut, salah satunya akan digunakan sebagai modal awal menggarap lahan pertanian baru. “Kalau uang tali asih belum dicairkan ya tentu warga sangat kecewa,” ujarnya.

Sejauh ini warga WTT kerap mendatangi pemerintah desa setempat maupun Help Desk NYIA. Untuk menanyakan kejelasan dana tali asih tersebut. Namun sampai sekarang mereka belum mendapatkan penjelasan yang dibutuhkan.
Keterangan David diperkuat pernyataan pihak ahli waris Paku Buwono (PB) X versi Suwarsi dkk. Mereka mengaku pernah diundang Badan Pertanahan Negara (BPN) DIJ ihwal pemberian tali asih kepada warga penggarap PAG terdampak New Yogyakarta International Airport (NYIA) tersebut.
Kendati demikian, Bambang Hadi Supriyanto SH, selaku kuasa hukum Suwarsi dkk, mengaku tidak pernah tahu kapan uang tali asih itu diberikan kepada warga.

Bambang mengatakan, penggugat klaim kepemilikan PAG di Kulonprogo pernah menandatangani surat kesepakatan dengan pihak Paku Alam (PA) X selaku tergugat, atas sepengetahuan BPN DIJ.
Dari total ganti rugi lahan PAG Rp 726 miliar, disepakati untuk disisihkan Rp 25 miliar sebagai tali asih bagi warga penggarap. Sisanya Rp 701,512 miliar kemudian dikonsinyasikan di Pengadilan Negeri (PN) Wates, hingga dicairkan awal Juni 2018 lalu. Alasan menyisihkan uang tali asih karena muncul gejolak dari warga penggarap PAG. Karena itulah surat kesepakatan turut diteken pihak-pihak ahli waris yang menyetujuinya. “Pelaksanaan pencairan uang Rp25 miliar itu yang kami belum tahu,” ucap Bambang usai menanyakan kebenaran pencairan dana ganti rugi bandara bagi Puro Pakualaman di PN Wates Senin (20/8).

Sukarno, salah seorang ahli waris Paku Buwono X versi Suwarsi dkk, mengamini. Dia mengaku pernah diundang BPN DIJ. “Pertemuan itu juga dihadiri empat kepala desa terdampak bandara,” ungkapnya. Sukarno mengaku keberatan dituding sebagai pihak penghambat proses pencairan dana kompensasi bandara. Bahkan dia merasa tidak pernah diberi tahu terkait kompensasi tersebut.

“Termasuk proses pencarian dana kompensasi PAG Juni lalu, kami tidak tahu,” katanya. Menurut Sukarno, kunci kejelasan persoalan itu tetap ada di PN Wates. Kalau PN Wates bisa transparan terhadap hal-hal penting yang kami tanyakan, maka semua akan klir,” sambungnya.

Terpisah, Kepala Kantor BPN Kulonprogo Suardi menyatakan, pemberian tali asih kepada warga penggarap lahan PAG menjadi kewenangan Puro Pakualaman. Bukan urusan tim pelaksana pengadaan tanah pembangunan bandara. “Itu terserah pihak PA. Mungkin nanti difasilitasi desa,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengakui jika pihak Puro Pakualaman telah menandatangani surat pernyataan kesanggupan membayar tali asih pada akhir Oktober 2017. Ini sekaligus menjadi kepastian Puro Pakualaman untuk memberikan tali asih Rp 25 miliar tersebut kepada warga penggarap lahan PAG terdampak bandara. Hanya, pembayaran tali asih tentu saja menunggu pencairan dana ganti rugi yang menjadi hak Pakualaman.
Sebagaimana diketahui, berdasarkan data BPN Kulonprogo ada empat bidang tanah PAG seluas 160,2 hektare terdampak NYIA. Lahan tersebut tersebar di empat desa, yakni Glagah, Palihan, Sindutan, dan Jangkaran. Sedikitnya ada 627 petani yang kehilangan lahan garapan. Sebagai dampak proyek pembangunan bandara. (tom/yog/mg1)