SLEMAN – Asosiasi Perhotelan Kaliurang telah menyiapkan langkah terkait aktivitas Gunung Merapi. Yakni berupa penguatan mitigasi bencana oleh seluruh komponen penginapan. Langkah tersebut setidaknya mampu meminimalisasi jatuhnya korban.

Ketua Asosiasi Perhotelan Kaliurang Heribertus Indiantara memastikan seluruh komponen siap. Mitigasi bencana telah diterapkan jauh-jauh hari. Setidaknya konsep keselamatan telah diterapkan pasca erupsi Merapi 2010.

“Sudah kami terapkan ke seluruh jajaran penginapan di Kaliurang. Sehingga mereka tahu bagaimana harus bersikap saat erupsi. Tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga tamu penginapan,” ujar Heribertus, Rabu (22/8).

Pembekalan mitigasi bencana dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman. Pelatihan dan pendampingan dilakukan berkala. Sasarannya karyawan hotel, wisma dan homestay.

Jajarannya terus memantau informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta. Langkah tersebut diambil untuk menghindari informasi palsu. Apalagi manajemen penginapan wajib memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung.
“Terus memperbaharui informasi terbaru tentang pertumbuhan kubah lava Merapi. Jalur evakuasi telah disiapkan, termasuk titik kumpul masing-masing penginapan dan titik kumpul utama,” ujar Heribertus.

Salah satu standar operasional pelaksanaan (SOP) adalah parkir kendaraan tamu. Dalam kondisi tertentu kendaraan diwajibkan parkir menghadap sisi selatan. Mempermudah mobilisasi sewaktu-waktu.

Terkait jarak Kaliurang dengan Merapi diakuinya tergolong rawan. Jarak terdekat dengan puncak Merapi kisaran enam kilometer. Ada 303 hotel dan penginapan di Kaliurang tersebar di sisi barat, timur, dan selatan.
“Di satu sisi kami berharap kondisi stabil. Saat ini seluruh komponen wisata masih beraktivitas normal. Menyikapinya dengan bijak agar tetap aman tapi wisata juga tidak sepi,” kata Heribertus.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Joko Supriyanto memastikan mitigasi berjalan efektif. Pendampingan tidak hanya menyasar hotel, namun juga relawan. Setidaknya seluruh komponen relawan kawasan Pakem dan Cangkringan telah terlatih.

BPBD Sleman rutin menggelar pendampingan dan pelatihan. Tidak hanya di atas kertas, pelatihan juga terwujud dalam praktik lapangan. Melibatkan warga dan sekolah yang berdekatan dengan puncak Merapi.
“Sesuai tagline: Sleman Living Harmony with Disaster, bukan ditakuti tapi hidup selaras. Mengetahui langkah-langkah bijak saat erupsi,” kata Joko. (dwi/iwa/mg1)