Kreneng dulu biasanya dipakai untuk alat pembungkus gerabah. Tapi berkat Abdul Syukur, empat tahun terakhir kreneng dipakai sebagai pengganti kantong plastik saat membawa daging hewan kurban di dusun Kalipucang Bangunjiwo Kasihan.

Sukarni Megawati, Bantul

Kesibukan di Kalipucang sudah berlangsung sejak selasa malam (21/8). Saat itu para ibu gotong royong membuat kreneng. Di dusun yang dekat sentra pengrajin gerabah Kasongan itu, empat tahun terakhir ini mengganti tas kresek dengan kreneng, untuk membawa daging kurban. Kesibukan bertambah pada rabu (22/8) selepas salat Id.

Para lelaki menguliti tiga sapi yang telah selesai disembelih, beberapa yang lain sudah selesai memotong daging kambingnya dengan sempurna. Sedang para wanita asyik memotong daging-daging sapi yang telah terpisah menjadi lebih kecil, kemudian memasukkanya ke dalam kreneng bambu yang tersedia.
“Kreneng merupakan kriya asli di sini, saya mencoba mengupayakan kurban berbasis seni lingkungan sebagai bentuk penanganan sampah plastik kepada warga,” ungkap Abdul Syukur, seorang seniman lingkungan yang memperkenalkan tradisi kurban wadah kreneng kepada warga Kalipucang.

Pengemasan daging kurban yang lebih higienis dengan kreneng itu diinisiasinya sekaligus untuk melestarikan kreneng. Menurut dia dulunya kreneng sebagai alat pembungkus gerabah. “Sejak 2014 lalu kami mengajak masyarakat untuk membuat kreneng yang di dalamnya dilapisi daun jati untuk membungkus daging kurban,” katanya.

Salah satu masyarakat yang merasakan betul efek dari penggunaan bahan kreneng sebagai pembungkus daging adalah Sri Martilah. Menurut dia penggunaan plastik dirasa kurang baik untuk kesehatan, limbah yang dihasilkan juga tidak baik bagi daging sendiri. “Kreneng bukan tradisi turun-temurun saja, tapi juga memengaruhi citarasa daging dengan adanya penggunaan daun jati,” jelas perempuan 47 tahun ini.

Takmir masjid Al-Furqon Joko juga mengatakan daging yang ada di kreneng ini akan didistribusikan kepada seluruh warga Kalipucang. Penggunaan kreneng juga menguntungkan, masyarakat, karena sekaligus bisa dilatih untuk mengampanyekan kelestarian lingkungan juga menambah penghasilan pengrajin kreneng. “Kreneng besar akan diberikan untuk sohibul kurban sedangkan kreneng kecil untuk masyarakat,” tegas lelaki 52 tahun ini.

Abdul memang seorang pendatang. Tapi dia berani mengambil langkah edukasi kepada masyarakat. Selain pemakaian kreneng, dia juga mengajak masyarakat untuk mau mandiri. Jika biasanya masyarakat menerima daging kurban, sudah empat tahun ini masyarakat berkurban. “Dulunya selalu menerima daging kurban dari Ranting Muhammadiyah, tapi sudah empat tahun lalu masyarakat punya semangat berkurban lewat acara arisan,” jelas pria 40 tahun ini.
Jadi dalam arisan tersebut, tujuh orang warga yang mendapatkan arisan, bisa menyumbang untuk membeli beberapa ekor sapi dan kambing. Begitu seterusnya secara bergiliran.

Bagusnya, lanjut dia, masyarakat hanya diajak dan diarahkan satu kali pada tahun pertama. Tahun-tahun selanjutnya, mereka sudah menunaikan segalanya sendiri. Berbeda dari tahun lalu, tahun ini kurbannya lebih banyak sapi daripada kambing. “Tahun lalu ada dua sapi an beberapa kambing yang disembelih,” jelasnya. (pra/mg1)