Sulit Dibendung, Budaya Buang Limbah Hewan Kurban di Sungai

SLEMAN – Merobohkan sapi seberat 900 kilogram ternyata tak mudah. Butuh sedikitnya 27 orang untuk prosesi penyembelihan hewan kurban sumbangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu. Butuh waktu hingga 12 menit hingga sapi hasil kawin silang peranakan ongole (PO) dan limousin itu berhasil disembelih sekitar pukul 09.00, Rabu (22/8). Dengan disaksikan puluhan warga Padukuhan Ngetal, Margoagung, Seyegan, Sleman. Sapi jumbo ini disembelih di halaman Masjid Nurul Huda.

SIAP SEMBELIH: Sapi Jokowi berhasil dirobohkan setelah 12 menit. Dagingnya dibagikan untuk warga di tiga kampung Padukuhan Ngetal, Margoagung, Seyegan, Sleman.
(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

“Nggih alhamdulillah senang dibantu Pak Presiden. Jumlah sapinya kurban jadi bertambah,” ungkap Waginah, warga Ngetal RT 9/RW 14.
“Sapi Jokowi” yang dibeli dari seorang peternak Sleman itu turut mengundang perhatian Febda Risha, warga Kotagede, Kota Jogja. Risha sengaja datang di Seyegan hanya untuk memuaskan rasa penasarannya. “Habis baca berita langsung memastikan ke sini. Ingin lihat sapi 900 kilogramnya presiden segede apa. Ternyata, wah gede banget!” katanya kagum.

Tak kurang 213 kepala keluarga (KK) miskin di Padukuhan Ngetal menjadi sasaran utama penerima daging kurban sapi bantuan Jokowi itu. Sedangkan total warga Ngetal 753 KK. Ketua takmir Masjid Nurul Huda Ludiman mengatakan, daging sapi presiden dibagikan untuk warga di tiga kampung se-Padukuhan Ngetal. Yakni Kampung Ngetal, Karang, dan Beteng.

“Kami sesuaikan jumlah warga. Terutama dari keluarga miskin,” katanya sebelum penyembelihan kemarin. Selain itu sapi bantuan presiden, takmir menyembelih masing-masing tiga ekor sapi dan domba sumbangan warga setempat. Kulit hewan kurban rencananya akan dijual. Hasilnya disumbangkan untuk korban gempa Lombok. Disalurkan lewat Pemkab Sleman. “Ya bagi-bagi rezeki,” ujar Ludiman.

Sapi Jokowi tak luput dari pemeriksaan petugas Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman. Kepala DP3 Sleman Heru Saptono mengatakan, bentuk fisik dan muka sapi bantuan presiden tampak sehat. Cara penyembelihannya dinilai lumayan baik. Sebelumnya, Heru meminta takmir mengikat jalur napas sapi jumbo tersebut. Agar peredaran darah dari pernapasan tidak tercampur di daging. “Biar dagingnya juga lebih enak. Karena kalau sudah tercampur (darah pernapasan, Red), proses di dalam sistem pencernaannya bisa keluar lagi dan mencemari daging,” jelasnya.

Heru memastikan sapi Jokowi tidak mengandung cacing hati. Paru-paru dan limpanya juga normal. Ini menandakan kualitasnya bagus. “Kalau ada cacingnya, ketika dibelah langsung keluar,” ujar Heru usai pemeriksaan. “Kalau tidak diolah dengan baik bisa menimbulkan infeksi pada manusia,” sambungnya.

Dokter Hewan Pusat Kesehatan Hewan Seyegan Suprasetyaningrum menambahkan, tes feses pada sapi presiden hasilnya negatif. Ini juga menjadi penanda bahwa kondisi hati sapi tersebut bagus. “Feses kami uji di laboratorium sebelum sapi dikirim ke lokasi penyembelihan,” katanya.
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan DP3 Sleman Husein Siswanto mengatakan, sebesar 75 persen dari total berat karkas berupa daging. Ini setelah daging sapi dikuliti dan dihilangkan kepala, kaki, serta jeroannya. Sistem pendistribusian dagingnya, sepertiga untuk sohibul kurban. Sisanya dibagi untuk warga.

Kepala UPT Pelayanan Kesehatan Hewan Sleman Harjanto mengestimasikan berat daging sapi jumbo itu sekitar 378 kilogram.
Di bagian lain, Heru Saptono menyesalkan masih adanya budaya membuang limbah hijau kotoran dan jeroan hewan kurban di sungai, saluran air, maupun selokan. Rata-rata kotoran per ekor sapi bisa mencapai 40 kilogram.
“Sesuai surat edaran pemerintah, limbah hewan kurban seharusnya ditimbun di dalam tanah dengan kedalaman lubang 2-4 meter,” ingatnya. Hasilnya, dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.

“Saya tidak menutup mata, tadi lihat sendiri masih ada warga buang limbah kurban di sungai,” sesalnya. Heru tak menampik sulitnya proses edukasi kepada warga. Apalagi untuk mengubah perilaku yang telah membudaya.
Untuk mencegah terulangnya kasus serupa pada Idul Adha tahun depan, DP3 Sleman berencana membuat sarana penimbungan limbah padat permanen. Sarana ini dikonsep agar bisa digunakan setiap tahun. Hasilnya pun bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. (tif/yog/mg1)