JOGJA – Khotbah salat Idul Adha di halaman parkir Stadion Mandala Krida Selasa (21/8) yang bermuatan khilafah terus menuai kecaman. Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Mahfud MD dan sesepuh Muhammadiyah Buya Syafi’i Maarif menyesalkannya. Mereka menilai khotbah salat Id tidak sepantasnya diisi materi bermuatan khilafah.

“Ya harusnya khotbah yang berisi membangun kebersamaan. Idul Adha ini kan banyak makna simbolik,” ujar Mahfud di sela penyerahan hewan kurban di Madrasah Mu’alimin Jogja, Rabu (22/8). Buya Syafi’i turut hadir di acara itu sebagai alumnus Madrasah Mu’alimin.

Menurut Mahfud, khotbah salah Id lebih tepat jika mengangkat tema-tema taqarrub atau mendekatkan diri dengan Tuhan demi meraih kesuksesan. Salah satunya melalui berkurban. “Bangsa Indonesia juga bisa lulus ujian kalau mau berkorban,” katanya.

Mahfud mengakui masih adanya kelompok-kelompok radikal di Indonesia. Meskipun kelompoknya sudah dibubarkan pemerintah. Pencegahan munculnya kelompok radikal bisa dilakukan pemerintah dengan menciptakan sistem pemerintahan yang bersih dan jujur. Hal ini demi meminimalisasi aksi protes ketidakadilan sosial, yang bisa ditumpangi gerakan radikal. “Mumpung hari raya, kepekaan sosial perlu ditingkatkan. Sama saja dusta dalam beragama jika tidak punya kepekaan sosial atau tidak peduli anak yatim dan orang miskin,” paparnya.

Buya Syafi’I menambahkan, munculnya paham radikal dipicu ketimpangan sosial di masyarakat. Makanya, sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, harus diperjuangkan. Untuk melawan gerakan radikal. “Apalagi mayoritas umat Islam di Indonesia ini kan menengah ke bawah. Mau membangun masjid atau pesantren saja butuh puluhan tahun,” ungkapnya.

Buya Syafi’I mengibaratkan khilafah sebagai utopia. Gerakan mimpi besar yang sulit dibawa ke bumi.

Namun untuk melawannya tidak cukup hanya sekedar imbauan. Harus dengan tindakan nyata. Selain menghilangkan ketimpangan sosial, juga memperkuat pendidikan moderat. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, salat id di lapangan parkir Stadion Mandala Krida digelar oleh kelompok yang menyebut sebagai Komunitas Rindu Islam (Kori). Bertindak sebagai imam dan khotib KH Imam Purnawan Jati. Dalam kesempatan anggota komunitas membentangkan bendera hitam identik organisasi Hizbut Tahrir Indonesia, yang telah dibubarkan pemerintah. (pra/yog/mg1)