Dua laga terakhir Liga 2 Indonesia, dilalui gelandang serang PSS Sleman Rangga Muslim Perkasa bermain dalam starting eleven. Sebelumnya, dia lebihbanyak duduk di bangku cadangan. Bagaimana tantangan yang dia hadapi?

BAHANA, Sleman

Nama Rangga sudah menyita perhatian sepak bola Jogja, sejak bergabung bersama PSIM periode 2014 silam. Lepas dari Tunas Jogja, karir Rangga melesat cepat di bawah bimbingan pelatih PSIM Jogja saat itu Erwan Hendarwanto.

Rangga sempat menjadi idola para pendukung Laskar Mataram. Dengan postur tubuh mungil, pemain asal Bima, Nusa Tenggara Barat ini memiliki kelebihan dalam hal kecepatan dan mengolah bola.
Bersama Dicky Prayoga dan Hendika Arga di PSIM musim lalu, pemain berusia 24 tahun ini menjadi tumpuan skuad Parang Biru untuk bisa lolos ke babak play off Liga Indonesia 2017-2018.

Namun, angin berubah arah. Asa PSIM Jogja untuk bisa lolos ke babak play off pun pupus. Bahkan, Laskar Mataram kala itu harus menjalani babak play off agar terhindar dari jurang degradasi.

Di saat dibutuhkan, Rangga justru merapat ke klub kaya asal Surabaya, Persebaya. Cibiran pun datang dari suporter yang kontra akan keputusan Rangga. Pemain indentik dengan nomor punggung 15 ini pun bergeming. Asa bermain untuk klub yang tengah mengejar Liga 1 pun tak surut, hingga Rangga resmi berseragam Bajul Ijo.

Di skuad green force, sinar kebintangan Rangga tergusur oleh sejumlah nama seperti Irfan Jaya dan Rishadi Fauzi. Dan setelah Persebaya memastikan lolos ke Liga 1, Rangga pun dilepas.

PSS Sleman, yang menjadi rival PSIM tak ingin menyia-nyiakan bakat Rangga. Secara Resmi, pemain kelahiran 13 Mei 1994 menjadi bagian skuad Elang Jawa mengarungi Liga 2 musim ini.

Namun, di bawah Hery Kiswanto, Rangga hanya dijadikan pelapis bagi Rifal Lastori dan Irham Irhaz. Sejumlah laga banya dilalui dari bangku cadangan.
Setelah tangkup kepemimpinan berganti dari Herkis ke tangan Seto Nurdiyantara, barulah kesempatan bermain dari awal datang. Dimulai dari laga melawan Persiwa yang dilalui dengan manis. PSS Sleman unggul tipis 1-0 dari skuad Badai Pegunungan Tengah. ”Cukup senang bisa dipilih pelatih menjadi tim inti. Memang belum bisa memberikan yang terbaik. Karena saya biasa dicadangkan bermain dari babak kedua,” kata Rangga.

Laga kedua bermain sebagai starting eleven melawan Madura FC tak berjalan mulus. PSS Sleman harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor tipis 0-1. Diakui Rangga, dia masih membutuhkan adaptasi untuk terbiasa bisa bermain sejak babak pertama. ”Kemarin main memang ada sedikit beban. Karena kami dituntut untuk menang dan ciptakan gol,” katanya.
Beda hal dengan di PSIM dulu. Karena untuk mencapai permainan ciamik di Laskar Mataram pun butuh adaptasi yang cukup lama.”Awal karir saya kan di sana (PSIM, Red),” katanya.

Di tangan Seto, dia berharap tuah permainannya bisa bersinar kembali. Apalagi, Seto sendiri sebenarnya sudah mengetahui bakat hebatnya sejak masih berada di Tunas Jogja. ”Coach Seto, banyak membantu proses adaptasi saya di PSS,” terangnya.

Rangga sendiri menganggap sepak bola ada passion hidup yang dipilih. Sehingga, di mana pun dia bermain, akan memberikan permainan yang terbaik. Sepak bola, menurutnya bagian hidup sejak kecil yan bisa membawa dirinya kepada kesuksesan. ”Di tim ini, tentunya saya ingin terbang ke Liga 1,” tegasnya. (din/mg1)