Rumah Iswanti mungkin bisa menjadi prototipe bangunan di kawasan rawan gempa. Memanfaatkan kotoran sapi sebagai bahan baku utama, perempuan 50 tahun itu membangun “istana”-nya dengan konsep earthbag house.

DWI AGUS, Sleman

SEBUAH bangunan menyerupai rumah kurcaci terlihat mencolok di Dusun Tamanan Pabrik, Tamanmartani, Kalasan, Sleman. Beratapkan daun tebu kering, bangunan ini berdiri kokoh dengan taman di sekelilingnya. Dilihat dari dekat, keunikan bangunan ini makin tampak. Fondasinya berupa tumpukan karung beras yang mudah ditemukan di pasar. Karung berisikan tanah dan jerami itu sebagai pengganti batu bata. Ditata melingkar, hingga membentuk dinding rumah. Ada dua bangunan hampir serupa yang dihubungkan sebuah lorong. Rumah ini dibangun saat Lebaran 2014. “Bahan bakunya kotoran sapi dan tanah uruk dari dasar sungai,” ungkap Iswanti saat Radar Jogja menyambangi kediamannya belum lama ini.

Konsep rumah milik perempuan paro baya ini sangatlah sederhana. Menghadirkan rumah layak huni, nyaman, ramah dengan alam, dan tahan gempa. Terlebih bahan bakunya limbah yang tidak terpakai. Iswanti menyebutnya earthbag house.

Iswanti.
(DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Alasan Iswanti menerapkan konsep itu cukup kuat. Dia mafhum jika lingkungan tempat tinggalnya termasuk kawasan rawan gempa. Iswanti menyadarinya sejak membeli tanah pada 2010 silam. Berkaca pada gempa Jogja 2006 dengan dampak kerusakan besar.

Atas dasar hal tersebut dia lantas mencari referensi konsep rumah. Hingga akhirnya karya seorang arsitek bernama Nader Khalili mencuri perhatiannya. Bermodalkan karung, sosok ini berhasil membangun bangunan tahan gempa.
“Mencari di internet lalu ketemu earthbag house milik Nader Khalili. Pria ini pernah membuat rumah tahan gempa di beberapa negara,” katanya.
Konsep earthbag house pada dasarnya tak jauh beda dengan rumah-rumah sederhana di Indonesia. Hanya, konsep bangunannya meniadakan beton dan bata sebagai fondasi.

Hilangnya beton dan batu bata bukan berarti bangunan tidak kokoh. Dalam konsep tahan gempa, bangunan harus mengikuti alur. Sementara beton dan batu bata memiliki sifat solid dan kaku yang justru melawan pergerakan lempeng bumi.

Sebagai pengganti batu bata, Iswanti memanfaatkan tanah campur jerami yang dibuntal karung beras untuk fondasi dan dinding rumah. “Tanahnya setengah basah,” ungkapnya.

Khusus bagian dasar fondasi, karung diisi dengan kerikil dan pasir.
Fondasi ini tidak begitu tinggi. Sehingga tak memerlukan kedalaman tanah bermeter-meter. Bahkan kedalaman fondasi rumah milik Iswanti tidak lebih dari satu meter. Untuk menguatkan tumpukan karung, Iswanti memanfaatkan kawat duri besi bekas. Sedangkan karungnya dipesan secara khusus. Berupa gulungan panjang dan tidak terputus.

Fondasi ini mengusung konsep floating foundation. Di sinilah kunci bangunan tahan gempa. Kerikil dan pasir berfungsi meredam getaran saat tanah bergoyoang. Bangunan di atasnya yang berupa tanah campur jerami tidak melawan getaran, tapi mengikuti arah pergerakan tanah.

“Konsepnya adalah meredam getaran dan fleksibel. Membagi getaran karena konsep bangunannya lingkaran. Konsekuensinya, bangunan tak boleh terlalu luas. Idealnya berdiameter lima meter,” jelasnya.

Untuk penerangan dalam ruangan Iswanti memanfaatkan botol kaca bekas. Ini untuk memberikan pencahayaan alami. Botol-botol tersebut ditata di antara sela-sela tumpukan karung. Fungsinya sebagai celah cahaya masuk saat pagi hingga siang.

Setelah semua tumpukan karung tertata melingkar dari fondasi sampai dinding, langkah terakhir paling ditunggu adalah finishing. Campuran kotoran sapi dan jerami ditempelkan di dinding bangunan. Fungsinya sebagai pengganti plester berbahan semen. Jangan dibayangkan dinding kotoran sapi ini berbau. Karena bukan berupa kotoran segar. Tapi telah diendapkan beberapa lama untuk menghilangkan bau dan bakterinya.

BERHAWA SEJUK: Iswanti memamerkan kamar yang dindingnya banyak terpasang botol bekas sebagai sarana pencahayaan alami.
(DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Secara keseluruhan konsep bangunan tersebut terbukti ramah lingkungan. Saat siang udara di dalam rumah terasa sejuk. Sementara ketika malam suhu ruangan cukup hangat.
“Bahan-bahan alami tadi memiliki sifat insulasi panas dan membuat suhu ruangan stabil. Panas dari luar disimpan dalam dinding. Pelepasan suhu panas terjadi perlahan, sehingga pada malam hari juga tidak kedinginan,” papar Iswanti.

Bicara soal bahan baku, seluruhnya barang tak terpakai. Untuk kotoran sapi, Iswanti menghabiskan 30 dump truck. Bahan ini diperolehnya dari peternak sapi di sekeliling rumahnya.

Sedangkan tanah untuk fondasi dan dinding sebanyak 10 dump truck. Ini pun bukan tanah uruk hasil galian. Tapi hasil pengerukan sedimen Selokan Mataram. Ditambah lima truk hasil pengerukan proyek embung.
Kawat berduri didapatkannya dari limbah pagar duri Maguwoharjo International Stadium. “Harus berburu bahan. Meski bekas, saya tetap membelinya,” ujar Iswanti.

Keunikan rumah Iswanti bukan hanya dari desain bangunan. Tapi juga proses pembangunannya. Iswanti tetap memanfaatkan jasa arsitek.
“Pertama kali mendegar permintaan saya, arsitek dan tukang geleng-geleng kepala,” kenangnya.

Iswanti meminta arsitek, yang kebetulan temannya, untuk melihat video berisi referensi bangunan earthbag house karya Nader Khalili. Tidak mudah tentunya. Apalagi para tukang baru pertama kali membuat bangunan berbahan baku bekas.

“Saya ajak nonton film dulu, pertama kali tukang dan arsitek saya tidak percaya. Apalagi bahan bakunya dari barang-barang yang tidak biasa,” katanya.
Berkat ketekunan sang arsitek dan para tukang, bangunan seluas 360 meter persegi itu rampung dalam dua tahun pengerjaan. Diameter rumah sisi utara berukuran lima meter. Sementara diameter rumah selatan 7,5 meter.
Bangunan sisi utara memiliki ruang bawah tanah dengan total ketinggian sembilan meter. Sedangkan bangunan satunya berupa rumah dua lantai setinggi 7,5 meter. (yog/mg1)