Kemenag DIJ Desak Polisi Selidiki

JOGJA – Sebagian umat Islam di DIJ menggelar salat Idul Adha kemarin (21/8). Tidak serentak pada hari ini, sebagaimana ketetapan pemerintah pusat. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIJ Muhammad Lutfi Hamid tak menyoal penyelenggaraan salat Ied kemarin. Itu tak ada larangan. Hanya, Lutfi mempermasalahkan isi khotbah dalam salat Ied yang diselenggarakan anggota Komunitas Rindu Islam (Kori) di lapangan parkir Stadion Mandala Krida, Kota Jogja kemarin. Itu lantaran adanya materi yang menyinggung soal khilafah. Bicara khilafah di depan publik, menurut Lutfi, tak bisa dibenarkan. Apalagi di sekitar tempat salat terbentang bendera hitam yang identik dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi yang dilarang pemerintah. HTI dianggap bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Lutfi menegaskan, paham khilafah bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 yang menjadi landasan hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Pijakan NKRI adalah demokrasi. Bukan berdasarkan khilafah,” ucapnya, Selasa (21/8).

DIPROTES: Bendera identik ormas HTI terpampang di pagar halaman parkir Stadion Mandala Krida, Selasa (21/8).
DIPROTES: Bendera identik ormas HTI terpampang di pagar halaman parkir Stadion Mandala Krida, Selasa (21/8). (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

Karena itu Lutfi meminta aparat melakukan penyelidikan terkait hal itu. Terlebih jika terbukti pelaksanaan ibadah tersebut bertujuan memobilisasi masyarakat untuk menumbuhkan kebencian terhadap NKRI. Atau bisa menyebabkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem yang berlaku di NKRI. “Ini mestinya bisa ditindaklanjuti oleh aparat. Jika memang ada unsure subversif untuk merongrong kewibawaan negara,” tandasnya.

Berdasarkan sidang isbat, Idul Adha ditetapkan hari ini. Meskipun ada perbedaan pelaksanaan salat Ied, Lutfi menjamin tidak ada pelarangan. Asal tidak melenceng dari ajaran agama dan tak mengganggu stabilitas NKRI.

“Dalam beribadah, keberagaman itu wajar,” tuturnya. Keberagaman tersebut dipengaruhi banyak aspek pengetahuan dari orang yang memaknai agama dan latar belakang seseorang. Baik segi sosial, politik, ekonomi, maupun geografis.

Adapun yang bertindak sebagai imam dan khotib salat Ied di lapangan parkir Stadion Mandala Krida adalah KH Imam Purnawan Jati. Penasihat KORI Ahmad Sudrajat mengatakan, pelaksanaan salat Ied kemarin tak lepas dari aktivitas haji di Tanah Suci. Pemerintah Arab Saudi menentukan wukuf di Arafah pada Senin (20/8). Ini bertepatan 9 Dzulhijah. Maka 10 Dzulhijah Selasa (21/8). Kalau ada perbedaan keyakinan itu hal biasa,” ujarnya.

Ahmad mengklaim, jamaah yang mengikuti salat Ied di Mandala Krida lebih dari seribu orang. Ada dugaan, sebagian jamaah datang dari luar Jogja. Sedangkan pemilihan lokasi salat Ied di Mandala Krida berdasarkan interaksi lewat internet. “Kami mendapati teman-teman yang galau menyakini bahwa hari ini (kemarin) adalah salat Idul Adha. Maka kami selenggarakan di sini (Mandala Krida),” paparnya.

Terkait adanya bendera HTI, Ahmad berdalih tak ada kaitannya dengan organisasi tertentu. “Sebenarnya itu adalah bendera kaum muslimin. Bukan milik organisasi tertentu,” kilahnya.

Ihwal pemasangan bendera tersebut, menurut Ahmad, sebagai wujud kerinduan umat muslim. “Kaum muslimin yang rindu dengan kejayaan Islam. Harapannya begitu dengan bendera itu,” katanya.

Terpisah, Kabid Humas Polda DIJ AKBP Yuliyanto mengaku belum bisa berkomentar mengenai isi khotbah maupun pelaksanaan salat Ied di Mandala Krida. Namun, soal pelaksanaan salat Ied tersebut, Polda memang telah menerima pemberitahuan. Disebutkan, beberapa lokasi pelaksanaan salat Ied kemarin, di antaranya, di Playen, Gunungkidul; Jogja Expo Center, Bantul; Wates, Kulonprogo, dan Rumah Warna, Sleman. “Semua berlangsung kondusif. Personel (kepolisian, Red) berjaga sebatas menjaga kelancaran lalu lintas kendaraan,” jelasnya. (dwi/cr5/yog/mg1)