GUNUNGKIDUL – Perbedaan pelaksanaan salat Idul Adha juga terjadi di bumi Handayani. Jamaah Forum Kajian Islam (FKI) Gunungkidul menggelar Salat Id, Selasa (21/8). Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, petugas bersenjata lengkap melakukan pengamanan sejak malam harinya.

Salat yang berlangsung di Desa Playen, Kecamatan Playen dimulai sekitar pukul 6.30. Ratusan jamaan terlihat berdatangan dan mendengarkan khotib yang berdiri dari atas mimbar. Khotib dipimpin oleh Ustaz Yanto Ibnu Jabal. Kemudian pembaca materi khotbah diisi oleh Ustaz Asquri.

Pengurus FKI Gunungkidul, Nurwidianto mengatakan penetapan salat Id kali ini sesuai dengan syariat Islam. Dijelaskan berdasarkan syariat Islam, sebagaimana yang disampaikan Nabi Muhammad SAW yang menunjuk Amir Makkah untuk menentukan hari 10 Dzulhijah dengan ruqyatul hilal. “Jika ruqyat tidak berhasil bisa dengan dua orang saksi dari tempat lain yang akan diikuti oleh Amir Makkah. Kemudian Amir Makkah akan menentukan,” kata Nurwidianto.

Seperti diketahui, penentuan Hari Raya Kurban berbeda dengan yang telah ditetapkan pemerintah, berdasarkan sidang isbat Kementrian Agama, disepakati 10 Dzulhijah atau hari raya Idul Adha ditetapkan pada Rabu (22/8).
Sementara itu, Ketua Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) Gunungkidul Suyoto Surya mengakui Salat Idul Adha di wilayahnya tidak berlangsung serentak. Berbeda dengan yang akan diselenggarakan jamaah pada umumnya sesuai dengan penetuan oleh pemerintah pada hari ini.

Tapi Suyoto mengaku tidak mempermasalahkan perbedaan tersebut. Menurut dia, di wilayah lain juga ada yang beda. Bahkan salat Id di wilayah Kecamatan Playen berlangsung kondunsif.

Terpisah Kapolres Gunungkidul AKBP Ahmad Fuady mengaku sengaja menerjunkan anggota untuk mewujudkan situasi kondunsif. Menurut dia apapun acaranya, jika mengundang massa akan mendapatkan pengamanan dari petugas. “Kami menerjunkan sebanyak 30 personil,” kata Ahmad Fuady. (gun/mg1)