Dewa Ayu Tri Shavitri, Delapan Tahun Kuasai Delapan Jenis Tarian Bali

Bakat menarinya mulai tampak sejak dia duduk di bangku kelas satu SD. Sang ibu menjadi pembimbingnya langsung. Itulah Dewa Ayu Tri Shavitri, yang di usia 13 tahun mampu menguasai delapan jenis tari Bali.

SUKARNI MEGAWATI, Jogja

PENDET adalah tarian pertama yang dipelajari Dewa Ayu Tri Savitri ketika itu. Bagi Shevi, sapaan akrabnya, menari merupakan sebuah hobi. Ketertarikannya terhadap dunia tari menurun dari darah ibunya. “Mama ketika muda juga seorang penari Bali. Hampir semua jenis tarian Bali dikuasainya,” tutur Shevi saat berbincang dengan Radar Jogja belum lama ini.

Tari pendet termasuk yang cukup mudah dipelajari siswi kelas 7 SMPN 15 Kota Jogja ini. Tari ini pula yang biasanya dibawakan para penari pemula. Saat pertama kali belajar tarian Bali. Di usianya yang begitu belia, kala itu Shevi mampu mengusai seluruh ragam geraknya hanya dalam tempo dua bulan. “Menari apa pun sebenarnya mudah, asal kita tahu pakem-nya. Kalau tidak, mau semudah apa pun tarian akan jadi sulit,” ungkapnya.

Adalah tari kebyar duduk yang menurut Shevi paling sulit pakem-nya. Ini juga tarian khas Bali. Ada satu pengalaman yang tak pernah bisa dilupakan bungsu tiga bersaudara ini. Saat itu, dia mengikuti lomba tari di Surabaya. Shevi hanya punya waktu tiga minggu mempelajari tari kebyar duduk. Belum fasih, istilah yang kerap disebut gadis 13 tahun ini. “Masih terlalu dini,” ucapnya. “Saat itu mama sempat tanya, aku yakin nggak. Aku yakin saja untuk menambah wawasan dan pengalaman,” tegasnya.

Maka ikutlah Shevi dlam lomba tari itu. Ternyata, keberuntungan tak berpihak padanya kala itu. Apalagi properti panggung tidak mendukung untuk tari kebyar duduk. Karena tekstur lantainya kasar. Jadilah Shevi menari kebyar duduk di atas karpet kasar tersebut. “Karena baru pertama kali kaki sempat perih ketika duduk. Sempat jatuh beberapa kali,” kenangnya.

Pengalaman itu tak menjadikan Shevi patah semangat. Menari di karpet kasar justru dijadikannya sebagai pengalaman dan pelajaran baru.
Kini Shevi lebih fasih menari kebyar duduk di karpet kasar. Dari kegagalan yang pernah dialami, Shevi mampu menyiasati tarian ini saat berada di alas yang sama. Kemampuannya bahkan kian terasah. Delapan jenis tarian Bali dia kuasai dengan fasih. Selain pendet dan kebyar duduk, Shevi mahir menari panjisemirang, cilinaya, legong kraton, cenderawasih, dan kupu-kupu tarum.

Tak hanya fasih menari, Shevi pun kerap memenangi aneka kejuaraan tari. Di antaranya, juara pertama Dharma Wacana tingkat DIJ 2016. Dia juga menjadi duta DIJ di ajang kejuaraan tingkat nasional di Palembang pada 2017. Shevi meraih juara harapan tiga. Belum puas dengan kemampuannya menari Bali, Shevi mencoba jenis tarian Jawa kreasi. Seperti merak ngigel dan sintren. Soal dua tarian ini Shevi belajar secara otodidak dari aplikasi Youtube. “Bosan belajar tari Bali terus. Mau coba tarian yang lain, termasuk modern dance,” ungkapnya.

Kendati kiprahnya di dunia tari cukup cemerlang. Shevi punya cita-cita lain. Dia ingin menjadi seorang dosen komunikasi. Itu dilandasi kegemarannya berinteraksi dengan banyak orang. “Aku mau menjadi seperti apa yang aku sukai,” ujar Shevi yang tetap tak akan meninggalkan dunia tari yang telah menjadi hobinya sejak kecil. (yog/mg1)