SLEMAN – Status Gunung Merapi sejak Mei 2018 pada level dua atau waspada. Disusul kemunculan kubah lava di bekas letusan 2010.
Kondisi tersebut membuat beberapa desa yang terdampak erupsi mulai berbenah. Barak pengungsian dan skema evakuasi disiapkan untuk meminimalisasi korban.

Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Desa Glagaharjo Sunardi mengatakan pihaknya meningkatkan kualitas barak pengungsian Glagaharjo. Terutama kualitas instalasi air dan listrik.
Sebanyak delapan toilet yang disediakan juga sudah bisa digunakan. “Tidak ada masalah,” kata Sunardi.

Dikatakan, terdapat tiga gedung yang dapat digunakan sebagai tempat mengungsi. “Dapat menampung sekitar 400 orang,” ujar Sunardi.
Pihaknya tidak main-main menyiapkan skema evakuasi. “Skema pertama di Balai Desa Glagaharjo. Skema kedua diarahkan ke Barak Desa Argomulyo dan Desa Sindumartani (Ngemplak),” ujar Sunardi.

Pemerintah Desa Glagaharjo telah berkoordinasi dengan desa lain terkait sekolah yang dapat digunakan mengungsi. Ada tiga sekolah dasar di Desa Glagaharjo dapat menggunakan ruangan SDN Kejambon.
Kaur Pemerintahan Desa Glagaharjo Heri Prasetya telah mendata titik kumpul di tiga dusun. Utamanya di Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul dan Srunen.
“Kami juga mulai mendata lanjut usia (lansia) sekaligus harta ternak ataupun motor,” kata Heri, Rabu (22/8).

Desa Kepuharjo telah menyiapkan skema evakuasi lebih rinci. Mulai evakuasi warga hingga ternak. “Skenarionya, jika tidak lebih dari tujuh kilometer (radius aman) akan dievakuasi ke Barak Kepuharjo,” jelas Kades Kepuharjo Heri Suprapto.

Fasilitas listrik, air dan mandi-cuci-kakus (MCK) sudah tersedia. Jika pemerintah menetapkan radius aman lebih dari 10 kilometer, warga Kepuharjo akan dievakuasi ke Barak Wukirsari.
“Kalau 10 kilometer nanti ke Kiyaran, tapi kalau lebih dari 15 kilometer ke Bimomartani atau Umbulmartani,” ujar Heri.

Nantinya jika mengungsi di Kiyaran, pelajar yang masih bersekolah dapat bergabung dengan sekolah yang ditunjuk. “Untuk siswa SD di SDN Kiyaran 1 dan 2, siswa SMP di SMPN 1 Cangkringan,” ujar Heri.
Desa Kepuharjo telah menyediakan tempat untuk evakuasi ternak di Pager Jurang 1 dan 2. Jika dua tempat tersebut belum mencukupi, disediakan tempat evakuasi di lapangan Jabalkat Wukirsari.

Pemerintah Desa Kepuharjo juga telah menyiapkan logistik yang dapat digunakan untuk bertahan beberapa hari. Desa memiliki dana desa khusus kebencanaan Rp 296 juta.

Desa Umbulharjo yang juga berpotensi terkena dampak erupsi telah menyiapkan dua barak di Ploso Kerep dan Brayut. Sekretaris Desa Umbulharjo Suranto menyatakan barak di Ploso Kerep dapat menampung 700 warga. Masih ada persoalan instalasi air.

Air yang digunakan masih mengambil di mata air sehingga semua bergantung pada jalur pipa air. Air yang digunakan masih dibagi dengan warga Hunian Tetap (Huntap) Ploso Kerep yang berlokasi di sebelah barak.

Menurut Suranto, masih terdapat dua dusun yang masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) 3 dan masih ditinggali. “Ya benar, yakni Dusun Panguk dan Pelem masih ada yang tinggal. Tapi jumlahnya sedikit,” ujar Suranto. (har/iwa/mg1)