USAI salat Magrib Jumat (11/11/2011) puluhan ribu jamaah haji dari berbagai negara berebut keluar dari pintu satu atau lebih dikenal dengan sebutan pintu Malik Abdul Aziz di areal Masjidil Haram. Saling dorong dan desak-desakan sudah menjadi pemandangan lumrah setiap bubaran salat wajib.

Begitu keluar dari pintu satu Masjidil Haram, deretan toko, pedagang kaki lima, dan hotel menyambut para jamaah. Sebagian jamaah kembali ke hotel atau sekadar melihat deretan pertokoan. Tapi, sebagian besar mereka mengerubungi berbagai toko cenderamata untuk membeli oleh-oleh bagi sanak keluarga di negara masing-masing.

‘’Ini deretan pertokoan paling panjang yang menjual aneka oleh-oleh khas Arab. Namanya kawasan Misfalah. Hampir semua jamaah mancanegara suka berbelanja di kawasan ini karena harganya relatif murah,’’ kata Ustad Achmad Muzzaky, seorang pembimbing haji plus.

Terlihat beberapa jamaah haji dari Indonesia ikut mengerubungi toko yang menjual aneka cenderamata. Sebagian lagi menenteng tas kresek besar berisi oleh-oleh khas Arab. ‘’Ini bisa dikatakan pengganti Pasar Seng meski tidak secara resmi. Karena hampir semua barang seperti di Pasar Seng bisa dijumpai di sini. Yang paling penting harganya juga miring,’’ tambahnya.

Ya, Pasar Seng yang sekarang sudah dibongkar dulunya sangat dikenal jamaah haji Indonesia. Lokasinya hanya berjarak 50 meter dari Masjidil Haram. Terletak di Jalan Al Gudaria, di antara Kampung Qararah dan Suq ul-Lail.

Di jalan itulah dulu ada pasar tradisional. Ratusan bahkan ribuan deretan toko beratap seng menjual aneka oleh-oleh khas haji. Karena beratap seng jamaah Indonesia pun menjuluki Pasar Seng. Panjang deretan di Pasar Seng saat itu sekitar 300 meter. Hampir tidak ada jamaah haji Indonesia yang tidak kenal Pasar Seng kala itu. Mereka bisa membeli oleh-oleh aneka macam untuk sanak saudara di Indonesia.

Pasar Seng dulu menjadi tempat favorit bagi jamaah Indonesia yang suka berbelanja. Bekas lokasi Pasar Seng dibangun perluasan Masjidil Haram. Ribuan pekerja dengan derek dan kran raksasa beroperasi di wilayah itu guna mempercepat perluasan pembangunan Masjidil Haram.

Kembali ke Misfalah, toko yang menjual aneka cenderamata di Misfalah umumnya permanen. Tidak seperti Pasar Seng. Di antara deretan toko di Misfalah, juga ada beberapa hotel kelas melati.

Lokasi kawasan Misfalah sangat panjang. Sekitar 4 kilometer. Mulai keluar pintu satu Masjidil Haram sampai terowongan. Bahkan tembus sampai Misfalah Tijari atau pasar tradisional Tijari. ‘’Semua deretan toko tadi menjual aneka cenderamata,’’ jelasnya.

Di sini menjual aneka tasbih berharga satu real (sekitar Rp 2.500) sampai yang mahal. Juga ada topi khas haji, manik-manik, ceret Arab, beragam pakaian dan baju serta aneka toko perhiasan emas, serta toko pakaian olahraga.

Juga ada deretan kedai aneka minuman dan makanan khas Timur Tengah. Mulai kebab, sari buah, gulai kambing, roti, sampai tempat penukaran uang berbagai mata uang dunia bisa dilayani di sini. Pokoknya komplit. Apa pun yang kita inginkan ada di sini.

Enaknya lagi, di sini semua barang dijual dengan harga pas. Kalau ditawar, biasanya pedagang bilang, “Massya Allah”, atau “Astagfirllah”. ‘’Harga di sini sudah murah Haji. Jangan ditawar lagi,’’ ujar pedagang tadi. Semua orang yang menjalankan ibadah haji atau umrah di Makkah dipanggil haj atau haji tanpa kecuali. Kalau perempuan dipanggil hajjah.

Tidak enaknya, kalau Anda membeli barang dalam jumlah banyak pun harganya tetap. Tidak ada diskon. Juga tidak ada imbuh atau bonus bila Anda membeli barang dalam jumlah cukup banyak sekalipun.

Misalnya, Anda membeli satu sajadah dengan 20 sajadah harganya tertap sama. Alias tidak bisa dikorting. ‘’Ini sudah murah. Tidak ada bonus. Nanti saya rugi,’’ kilah pedagang.

Kalau pembeli dari Indonesia menawar kelewatan murah, maka para pedagang spontan berucap, ‘’Bakhil..bakhil.’’ . Tapi, pedagang Arab yang umunya dari Yaman suka jamaah haji Indonesia karena dikenal royal dan suka berbelanja.
Hampir semua pedagang di Misfalah umumnya bisa bahasa Indonesia. Atau setidaknya mereka mengerti bahasa Indonesia. Bahasa itu menjadi kebutuhan bagi pedagang karena banyaknya orang Indonesia yang berbelanja di kawasan itu. Dengan demikian, itu memudahkan pembeli untuk bertransaksi.

Deretan toko atau pedagang kaki lima yang juga menjual cenderamata khas Arab terletak di Gazza. Meski tidak setenar Misfalah, deretan pertokoan di Gazza juga banyak diminati pembeli. Hanya, jalan menuju ke Gazza harus memutar lebih dulu. Sedangkan kalau ke Misfalah sangat praktis, jamaah tinggal keluar lewat pintu satu Masjidil Haram langsung disambut deretan pertokoan.(yog/bersambung)