Tak Perlu Impor, Sapi Bantuan Presiden untuk Warga Sleman

JOGJA – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIJ memastikan stok hewan kurban tahun ini aman. Tak kurang 20 ribu ekor sapi, 22 ribu kambing, dan 29 ribu domba siap disembelih pada perayaan Idul Adha besok (22/8). Kondisi ini ternyata tak berpengaruh pada harga daging sapi di pasaran.

Anggota TPID DIJ Sugeng Purwanto menyatakan, harga daging sapi di pasaran relatif stabil sejak 2016. Berkisar Rp 115 ribu – Rp 130 ribu per kilogram. Itu lantaran kebutuhan daging sapi DIJ dapat dipenuhi secara mandiri. Dalam hal ini DIJ bertindak sebagai produsen dengan jumlah produksi mencapai lebih dari 20 ribu ton. Jauh dari kebutuhan konsumsi masyarakat yang diperkirakan hanya sekitar 8.047 ton.

Kabupaten Sleman menjadi produsen penyumbang ternak besar terbanyak tahun ini. berupa 49.275 sapi, 84.100 domba, dan 28.480 kambing. Data itu diperoleh TPID DIJ berdasarkan pantauan stok hewan kurban pada 9-15 Agustus.

Dari pantauan diketahui harga kambing dan domba cenderung stabil. Antara Rp 2 juta hingga Rp 7, 3 juta per ekor. Sedangkan harga sapi layak kurban rata-rata Rp 19 juta – Rp 22 juta. Naik antara Rp 1 juta – Rp 2 juta per ekor. Adanya kenaikan harga sapi hidup, menurut Sugeng, dipengaruhi harga pakan dan cuaca dingin yang membuat nafsu makan hewan mamalia itu tambah besar.
“Dibanding tahun lalu kondisi sapi saat ini bisa dibilang lebih baik, meski harganya tak jauh beda,” ujar Sugeng.

Kepala Dinas Pertanian DIJ Sasongko menambahkan, setiap tahun pemerintah berupaya meningkatkan produksi ternak. Melalui program sewa sapi indukan wajib bunting. Sapi betina dilarang untuk dipotong, sebagai pabrik pedet (anak sapi). Dengan program tersebut, Sasongko optimistis, kebutuhan sapi cukup dipenuhi oleh peternak lokal. Tak perlu mendatangkan dari luar daerah. Apalagi impor.

Terkait kurban, Sasongko mengaku belum menerima laporan hewan sakit.”Kadang ada sapi yang waktu dipotong ada cacingnya. Tidak masalah, ini tidak bahaya. Tapi kalau terlalu banyak, mangga disingkirkan (cacingnya, Red),” tutur Sasongko.

Sasongko mengatakan, adanya cacing dalam tubuh sapi belum tentu menandakan hewan tersebut sakit. Itu bisa disebabkan karena adanya cacing yang tercampur pada pakan.
“Kalau sudah dimasak nanti cacingnya mati,” ujarnya.

Sementara itu, dalam menyambut Idul Adha tahun ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyumbang sapi peranakan ongole (PO) seberat 900 kilogram. Sapi jumbo ini akan disembelih di Padukuhan Ngetal, Margoagung, Seyegan, Sleman. Sapi bantuan presiden diserahterimakan Wakil Gubernur DIJ Paku Alam (PA) X kepada Kabag Kesra Setda Kabupaten Sleman Iriansyah. “Tahun lalu sapi bantuan presiden untuk warga Bantul. Sekarang gantian Sleman,” ujar PA X.

Menurut Iriansyah, sapi sumbangan presiden dibeli dari peternak di Sleman. Padukuhan Ngetal dipilih sebagai lokasi penyembelihan sapi tersebut karena masih banyak warga di wilayah itu yang hidup di bawah garis kemiskinan. Langkah tersebut sebagaimana arahan Pemprov DIJ. Sapi bantuan presiden diberikan khusus bagi masyarakat kurang mampu. “Mereka (warga) mengirim permohonan (bantuan hewan kurban) ke Pemkab Sleman. Setelah kami survey memang betul-betul membutuhkan hewan kurban,” ungkapnya.

Warga Sleman juga mendapat bantuan seekor sapi PO dari gubernur DIJ. Hanya, beratnya 400 kilogram. Sapi bantuan gubernur disumbangkan bagi warga Desa Sumberarum, Moyudan. Selain itu, gubernur juga menyumbangkan masing-masing seekor sapi untuk warga Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul, dan Kota Jogja. Serta dua sapi untuk Masjid Gedhe Kauman dan Masjid Puro Pakualaman. (tif/yog/mg1)