SLEMAN – Batik merupakan warisan budaya yang diakui Unesco sebagai warisan budaya tak benda. Nilai-nilai yang terkandung dalam batik termasuk proses pembuatan, serta cerita di dalam selembar kain itu harus dilestarikan.

Tatapi saat ini banyak kain yang dijual dengan berbagai motif dan mengatasnamakan sebagai batik. Padahal tidak semua kain yang bermotif bisa disebut sebagai batik.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIJ Tri Saktiyana menyebut batik sablon dan printing bukan merupakan batik. “Batik itu yang ada proses perintangan dengan malam panas pada kain,” jelas Tri, Sabtu (20/8).

Proses itu, kata Tri, bisa dengan cara cap ataupun dengan tulis. Oleh karenanya, edukasi ke masyarakat untuk mengenalkan batik yang sesungguhnya perlu dilakukan. “Ditambah saat ini Jogja telah menjadi Kota Batik Dunia,” ujarnya.
Dengan menyandang predikat itu, kata Tri, tentu sangat berat dan tantangannya beragam. Dia mencontohkan, banyak isu lingkungan yang muncul terkait proses pembuatan batik.

“Banyak isu tidak ramah lingkungan pada proses pewarnaan batik,” ujar Tri.
Kepala Disperindag Sleman Tri Endah Yitnani mengatakan pihaknya akan menggelar Gebyar Batik Sleman 2018. Acara ini sebagai upaya mengenalkan batik.

Endah mengatakan kegiatan ini merupakan dukungan Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2018. Pihaknya mengajak 500 perajin batik turut dalam acara tersebut.

Pihaknya ingin agar gaung batik semakin luas. “Bagaimana mengembangkan batik yang benar, langkah internalisasi dan edukasi ke masyarakat terkait batik itu yang penting,” ujar Endah.

Gebyar Batik Sleman 2018 merupakan rangkaian awal dan digelar pada 24-26 Agustus 2018. Puncaknya, merupakan event bertaraf internasional yaitu JIBB 2018 pada 2-6 Oktober 2018.
Ketua JIBB 2018 Tasbir Abdullah mengatakan kelebihan DIJ adalah setiap kabupaten memiliki ciri khas batik masing-masing. Dia berpesan agar setiap pelaku batik tidak sekadar mengejar materi.

Hal tersebut berpengaruh terhadap proses pembuatan batik dan lupa pada identitas batik. “Jangan sampai hanya mengejar komersial lalu lupa dengan kultur dan sebaliknya,” ujar Tasbir. (har/iwa/mg1)