SLEMAN – Para pengungsi korban gempa di Lombok kekurangan terpal untuk berlindung. Salah satu penyebabnya karena harganya yang mahal.
Demikian dikatakan anggota Asosiasi Pelajar dan Mahasiswa Selaparang Lombok Timur, NTB Ali. ‘’Harga terpal mulai Rp 600.000 hingga Rp 1 jutaan,’’ ujar Ali ditemui di Asrama Selaparang Lombok Timur, Jalan Perumnas, Condongsari.

POSKO BENCANA: Asrama Mahasiswa Lombok Timur di Condongcatur, Depok, Sleman.
(ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA)

Anggota Asosiasi Pelajar dan Mahasiswa Selaparang Lombok Timur, NTB yang lain, Firman, mengatakan para pengungsi membutuhkan tenaga medis lebih banyak. “Dalam satu tenda hanya ada satu tenaga medis, padahal banyak korban yang butuh tenaga medis,” kata Firman.

Para mahasiswa Lombok yang ada di Jogja tersebut terus memantau kondisi keluarga yang saat ini mengungsi. ‘’Saya khawatir dengan kondisi keluarga di Lombok. Walaupun bilang baik-baik saja, tapi saya tetap khawatir. Bawaannya ingin pulang, tapi keluarga melarang,” ujar Firman.
Hingga kemarin bantuan terus mengalir ke asrama yang menjadi posko utama korban gempa Lombok di Jogja. Bantuan rutin dikirimkan ke Lombok menggunakan pesawat Hercules TNI AU.
“Mungkin karena warga Jogja pernah terkena gempa, kepedulian terhadap Lombok juga tinggi. Kami berterima kasih atas bantuannya,” ujar Ali.

Berkait dengan gempa 7,0 SR yang kembali mengguncang Lombok Timur mendorong relawan Jogja Peduli Lombok mendesak pemerintah menetapkan gempa Lombok sebagai bencana nasional. “Karena dampaknya luar biasa,“ ujar koordinator tim relawan Jogja Peduli Lombok Dri Rahmat Rahardjo.
Dri memberikan informasi terkini tentang kondisi para relawan yang telah dikirim ke Lombok. “Dapat info dari sana (relawan di Lombok) kalau mati lampu dari kemarin,” ujar Dri.

Relawan Jogja Peduli Lombok mengirimkan 11 relawan ke Lombok. Mereka berada di kabupaten berbeda, lima orang di Lombok Timur, sisanya di Lombok Barat. Akses yang sulit di dua tempat tersebut menjadi kendala.
Sampah botol plastik air mineral para pengungsi yang menumpuk menjadi masalah baru. Minimnya tenaga medis yang ahli pengobatan herbal juga jadi kendala.

Relawan Jogja Peduli Lombok Agus Sumpeno Yulianto di Lombok Timur mengatakan warga was-was dan panic adanya gempa susulan. “Setiap terjadi gempa ada suara gemuruh dari tebing, kami hanya bisa mendengar,” kata Agus. (cr9/iwa/mg1)