KULONPROGO – Sebanyak 35 anak penyu (tukik) di Pusat Konservasi Penyu Abadi Trisik, Banaran, Galur, dilepasliarkan (19/8). Kegiatan tersebut diikuti salah satu komunitas mobil di Kulonprogo.

“Anak-anak juga ikut kegiatan ini. Mereka bebas berinteraksi di bawah bimbingan kami, bisa melihat lokasi penangkaran, penetasan telur dan tau cara merawat tukik,” kata Ketua Kelompok Konservasi Penyu Abadi Trisik Jaka Samudra.

Ada 35 tukik yang dilepas dan menjadi yang pertama kali pada 2018. Sedikitnya 17 sarang yang masing-masing berisi 100 butir telur penyu yang tengah dalam proses penetasan.

“Hampir semua sudah menetas dan menunggu layak untuk dilepasliarkan,” ujar Jaka.

Dari 17 sarang yang ada, 1.500 ekor tukik telah menetas dan sekitar 25 ekor mati terserang jamur. “Kami terkendala biaya penanganan penyu yang sakit terkena jamur,” ujar Jaka.

Menurut dia, penyu sebagai satwa dilindungi tidak boleh dijadikan bisnis. Sementara proses penangkaran membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Kami mengapresiasi kegiatan ini, semoga banyak komunitas ikut peduli penyelamatan penyu sebagai hewan yang populasinya semakin berkurang,” kata Jaka.

Salah seorang peserta pelepasan tukik, Rudi Firdaus mengatakan pelepasliaran tukik menjadi bagian peringatan HUT Ke-73 RI. “Ada sekitar 120 anggota yang ikut dalam kegiatan ini, kami juga membawa keluarga dan anak-anak supaya bisa mengenal penyu sebagai hewan langka,” ujar Rudi.

Anak-anak perlu dikenalkan dengan alam agar peduli lingkungan. Termasuk peduli dengan alam dan makhluk hidup yang dilindungi.
“Anak-anak terlihat senang. Ini pengalaman berharga bagi mereka, tentunya bangga bisa ikut kegiatan tersebut,” kata Rudi. (tom/iwa/mg1)