BEGITU terdengar azan Subuh Rabu (10/11/2011) pukul 05.07 para jamaah yang berada di sekitar puncak Jabal Nur sibuk mencari tempat untuk salat. Ada yang salat di atas batu. Ada pula yang di dekat warung. Tanpa petunjuk pun arah kiblat terlihat jelas dari puncak gunung ini. Yakni, berpatokan pada menara Masjidil Haram dan Royal Clock Tower.

Melihat kondisi seperti itu beberapa pendaki menunggu situasi di puncak Jabal Nur kembali normal. Karena saking banyaknya jamaah berada di tempat itu. Namun hingga satu jam ditunggu antrean jamaah tetap tak bergerak. Bahkan kian padat. Makin siang gelombang pendaki yang datang kian banyak. Mereka terus mendesak dan tertahan di puncak gunung.

Melihat situasi seperti itu beberapa pendaki, terutama perempuan dan pria sepuh memilih balik kucing. Mereka turun. Meski untuk melanjutkan ke Gua Hira hanya beberapa meter lagi. Tapi itu sudah tidak memungkinkan karena padatnya pendaki.

Beruntung sebelumnya ada beberapa jamaah yang bisa lolos ke Gua Hira. Salah satunya, Wildan, dosen Universitas Trunojoyo, Bangkalan, Madura. ‘’Saya sempat azan dan salat Subuh berjamaah dengan rekan di depan Gua Hira. Kalau di dalam gua tidak memungkinkan karena padatnya pendaki,’’ aku Wildan semringah. ‘’Saya yang iqomah,’’ tambah Denny, jamaah lain, yang bisa masuk Gua Hira.

Selain itu, Gua Hira sangat sempit. Kalau dipakai salat hanya bisa menampung satu orang. Begitu sempitnya, kalau orang berselonjor, kakinya sudah berada di luar gua. Itu saking sempit dan pendeknya Gua Hira.

Untuk bisa masuk Gua Hira, kata Wildan, butuh perjuangan ekstra keras. Mereka harus berjibaku dengan jamaah asal Turki yang berbadan besar. ‘’Tapi, sejak awal saya sudah berniat ingin melihat Gua Hira. Makanya, saya tetap bersemangat meski uyel-uyelan,’’ ujarnya.

‘’Begitu melihat dan masuk Gua Hira, saya membayangkan bagaimana susahnya Nabi Muhamad SAW saat itu mendaki Jabal Nur. Sekarang saja masih susah meski ada jalan setapak. Apalagi dulu,’’ kata Hendri, pengusaha muda dari Jemursari, Surabaya.

Turun dari puncak Jabal Nur pun tidak gampang. Sebab, semua pendaki tertahan di puncak. Untuk bisa lolos, pendaki harus bersabar antre menunggu giliran turun. Itu karena dari bawah pendaki terus berdatangan. Bahkan jauh lebih banyak dari pendaki yang turun.

Tak ayal di beberapa tikungan turunan terjadi kemacetan. Pendaki yang akan naik tertahan tak bisa jalan karena barisan paling depan tak bisa bergerak di puncak gunung. Mereka tak bisa melanjutkan perjalanan akibat padatnya pendaki.

Saat menuruni gunung terlihat para pengemis di beberapa tanjakan. Jumlahnya tidak hanya satu dua orang. Tapi mencapai puluhan. Umumnya ada yang cacat tangan atau kaki. Mereka tersebar di sepanjangn tanjakan. Padahal, saat naik beberapa jam lalu mereka belum ada. Lalu, dengan apa mereka mendaki gunung yang terjal itu. Padahal, rata-rata fisik pengemis tadi terlihat ringkih.
Sesampainya di bawah bukit, jamaah diserbu anak-anak penjual minuman mineral. Penjual cilik tadi memaksa dengan cara menarik-narik baju jamaah. Mereka tidak akan melepasnya sebelum minuman yang dijual satu real itu dibeli.

Kembali Gua Hira, meski kondisi medan di Jabal Nur sangat sulit dan terjal, tak menyurutkan jamaah untuk berziarah ke sana. Hampir setiap jamaah yang melakukan umrah maupun naik haji ke Tanah Suci tidak melewatkan mendaki Gua Hira. Khususnya mereka yang masih memiliki fisik prima dan semagat tinggi. Tapi, sebagaian jamaah berusia lanjut atau perempuan umumnya hanya ziarah di kaki Gunung Jabal Nur. Tidak mendaki. Termasuk jamaah umrah yang biasanya hanya diajak pelesir di Jabal Nur, tapi tidak mendakinya. Cukup dilewatkan untuk sekadar tahu jika di puncaknya ada Gua Hira.

Tinggi bukit atau gunung itu hanya sekitar 250 meter. Tapi butuh waktu hingga satu jam dari kaki gunung. Karena medannya memang berat. Menanjak dan berkelok. Tidak ada titian tangga yang teratur dan bertingkat, yang ada hanya batu-batu cadas besar berundak.

Di samping gua itu terdapat tulisan “Ghor Khira” berwarna merah yang berarti Gua Hira. Di atas tulisan itu juga dituliskan dua ayat awal Surat Al Alaq dengan cat warna hijau.

Pemerintah Arab Saudi sebenarnya tidak menganjurkan para peziarah mendaki gunung ini. Itu terlihat pada papan pengumuman di jalan masuk menuju gunung. Imbauan ini ditulis dalam beberapa bahasa. Termasuk bahasa Indonesia.

”Saudara kaum muslim yang berbahagia: Nabi Muhammad SAW tidak menganjurkan kita naik ke atas gunung ini. Begitu pula salat, mengusap batunya, mengikat pohon-pohonnya, dan mengambil tanah, batu, dan pohonnya. Dan kebaikan adalah dengan mengikuti sunah Nabi SAW, maka janganlah Anda menyalahinya.” Begitulah kalimat yang tertulis di papan pengumuman resmi dikeluarkan pemerintah Arab Saudi. Meski ada larangan tersebut, jamaah haji seperti tidak memedulikannya.

Motivasi peziarah beragam. Umumnya jamaah ingin merasakan bagaimana sulitnya Nabi Muhammad SAW saat mendaki Jabal Nur. Apalagi, saat itu belum ada jalan setapak. Biasanya, kalau ada kesempatan jamaah juga menunaikan salat sunah di Gua Hira. Tapi, itu tidak mudah karena harus antre dan berebut dengan jamaah seluruh dunia.(yog/bersambung)