Bahaya jika hanya Mengandalkan Uang

JOGJA – Dewasa ini terjadi pragmatisme politik, baik untuk kandidat yang akan bertarung di pemilihan legislatif (Pileg) maupun pemilihan presiden (Pilpres). Pragmatisme pertimbangannya semata-mata keuntungan atau manfaat untuk diri sendiri atau kelompoknya.

“Misalnya kemenangan atau popularitas yang tentu saja mengabaikan pertimbangan yang lebih besar, seperti masyarakat atau pemilih. Sangat membahayakan kalau hanya punya uang atau mengandalkan uang yang dipertanyakan asal-usulnya dari mana,” ujar pengamat politik dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Lukas S. Ispandriarno.

Dikatakan, tentu saja hal itu akan mengabaikan transparansi, dua poin penting pragmatisme yang mengabaikan kepentingan masyarakat banyak dan menihilkan arti sebuah suara. Semua itu menjadi syarat demokrasi, dan pengabaian hal-hal tersebut tentu mencederai demokrasi karena tidak ada keterbukaan.

“Tentu saja akan mengabaikan kualitas calon, berintegritas atau tidak, tidak lagi menjadi pertimbangan. Bagaimana bisa mencegah agar calon tidak berkualitas itu terpilih, salah satunya adalah laporan harta kekayaan. Di DPR paling malas untuk melaporkan harta kekayaan,” ujarnya.

Lukas lebih lanjut mengatakan, integritas lain harus diuji juga. Misalnya sebelum mencalonkan diri, harus jelas apa tujuan mereka, apa yang mereka perbuat untuk kiri kanan, sudah berbuat sesuatu atau belum, memiliki kinerja atau tidak.

“Faktor lain seperti penyelenggaraan pemilu. Bawaslu juga tidak meloloskan eks koruptor, saya kira harus dilakukan. KPU dan Bawaslu tidak perlu takut, harus konsisten,” tandas Lukas.

Terakhir, lanjutnya, adalah masyarakat. Apakah mereka sungguh-sungguh ingin memiliki pemimpin yang bersih dan berintegritas yang memikirkan kemajuan bangsa. “Jadi kita memang membutuhkan pemilih yang rasional, yang sungguh-sungguh mempertimbangkan syarat-syarat tadi,” tegas Lukas. (ita/laz/mg1)