Saat berkunjung ke London, Inggris, wisatawan biasanya sayang untuk melewatkan tontonan prosesi pergantian penjaga Istana Buckingham, kediaman resmi Ratu Elizabeth II. Prajurit penjaga istana dan keluarga kerajaan itu disebut Queen’s Guard dan Queen’s Life Guard.

Untuk menonton aksi para prajurit Inggris itu, wisatawan harus mengetahui jadwal prosesi itu. Di musim gugur hingga semi, pergantian penjaga dilakukan dua hari sekali. Sedangkan pada musim semi ke musim gugur, pergantian penjaga dilakukan setiap hari tepat pada pukul 11.30 waktu setempat.

Selain di London, tradisi tersebut juga dilakukan di beberapa negara persemakmuran Inggris. Misalnya di Kanada, India dan Malaysia. Tak hanya di Inggris, rupanya tradisi pergantian penjaga istana juga dilakukan di Kadipaten Pakualaman. Berdasarkan sejarahnya, Pakualaman merupakan kerajaan yang dibentuk Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles pada 17 Maret 1813. Kala itu Inggris tengah menjajah Indonesia.

Berbeda dengan di Inggris, agenda prajurit atau bregada jaga di Pakualaman dilaksanakan setiap selapan atau 35 hari sekali. Tepatnya saban Sabtu Kliwon bersamaan dengan weton atau hari kelahiran KGPAA Paku Alam X berdasarkan penanggalan Kalender Jawa.

Bulan ini, prosesi pergantian bregada jaga itu dilaksanakan, Sabtu (18/8). Prajurit yang berganti jaga dari Bregada Plangkir kepada Bregada Lombok Abang. “Disimbolkan dengan pergantian bendera yang dilanjutkan kirab pasukan mengelilingi tembok luar Kadipaten Pakualaman,” terang Penghageng Kawedanan Pambudaya Kadipaten Pakualaman KPH Kusumo Parastho di sela acara Sabtu (18/8).

Kusumo Parastho menerangkan, prosesi pergantian bregada ini sudah sejak sejak tiga tahun lalu. Itu terjadi setelah sempat absen beberapa tahun lamannya. “Kami kembali dikenalkan ke masyarakat. Selain mengembalikan tradisi, juga bertujuan untuk pariwisata,” jelasnya.

Pergantian Bregada Jaga Kadipaten Pakualaman ini mendapatkan dukungan penuh Dinas Pariwisata DIY. Bentuknya dengan memadukan acara itu dengan atraksi wisata budaya. Di Alun-Alun Sewandanan yang berada di depan Kadipaten Pakualaman digelar aneka kesenian rakyat. Di antaranya kesenian reog dan jatilan. “Kesenian masyarakat menjadi ajang berkumpul dan berekspresi,” katanya.

Atraksi wisata budaya pergantian bregada jaga itu mengusik perhatian wisatawan nusantara dan mancanegara. Mereka terlihat berjubel menyaksiakan acara tersebut. Seorang wisatawan, Makruf Saiful Anwar asal Bandung mengatakan, awalnya dia berniat liburan di tempat-tempat wisata yang hits di Jogja. Namun setelah mendengar kabar adanya pergantian bregada, dia tertarik menyaksikan dari dekat.

Lantaran sejarah pergantian bregada prajurit itu terhitung awam, Saiful berniat menelusurinya. “Saya terinspirasi dan tertarik belajar sejarah lahirnya Pakualaman,” katanya. Menurut dia, setelah menyaksikan, dia seperti teringat dengan peristiwa di masa lampau. (riz/kus/mg1)