SLEMAN – Musim kemarau saat ideal menanam tembakau. Namun banyak petani di Sleman enggan menanam tembakau. Alasannya, cuaca yang tidak menentu menjadi musuh utama.
Seperti dua musim tanam belakangan ini, para petani tembakau di Sleman merugi. Pada 2016-2017 saat musim tanam tembakau terjadi kemarau basah yang mengakibatkan tembakau sulit tumbuh.
Kondisi tersebut berimbas terhadap harga jual tembakau yang rontok. Semakin sedikit petani tembakau di Sleman. Padahal potensi tanaman ini untuk tumbuh sangat besar.

Kepala Bidang Holtikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Edi Sri Hartanto mengatakan tembakau cocok ditanam saat kemarau. “Biasanya antara Mei dan Juni,” kata Edi.
Pihaknya mencatat luas lahan tembakau di Sleman tinggal 302 hektare. Pada 2016 luas lahan tembakau mencapai 1.215 hektare. “Petani memilih menanam cabai,” ujar Edi.
Dia menduga turunnya animo petani menanam tembakau karena cuaca. Ada trauma lantaran tahun lalu gagal panen. “Juga dipengaruhi harga jual yang tidak menentu,” ujar Edi.

Saat menanam tembakau petani tidak mengharapkan turun hujan. Hal tersebut berdampak terhadap kualitas tembakau yang diklaim menurun. “Panen dimulai September, nanti sama-sama akan tahu harga tembakau waktu panen,” ujar Edi.
Ada enam kecamatan yang konsisten menanam tembakau. Yaitu di Tempel, Seyegan, Sleman, Ngaglik, Ngemplak dan Kalasan. Pihaknya tidak mematok target panen tembakau.

Salah seorang petani tembakau Suwardi mengaku pernah rugi saat kemarau basah dua musim lalu. Dia terpaksa menanggung kerugian lantaran tembakaunya tidak laku dijual.
Dia tetap menanam tembakau lantaran melihat cuaca yang sedikit lebih kondusif. Sebelumnya, dia bersama keempat koleganya merupakan petani tembakau. Namun kini satu dusun tinggal dia yang menanam tembakau.
“Yang lain memilih menanam palawija,” kata Wardi, Minggu (19/8).

Wardi berharap tembakau yang ditanamnya pada lahan seluas satu hektare sejak Mei dapat dipetik akhir Agustus. Namun untuk harga, dia tidak berharap terlalu muluk.
Bisa dijual hingga Rp 25 ribu tembakau rajang kering saja dia sudah bersyukur. “Setidaknya tahun ini ada yang dapat dijual tidak seperti tahun kemarin, blas gak laku,” keluh Suwardi. (har/iwa/mg1)