JOGJA – Program rehabilitasi penyalahguna narkotika belum sepenuhnya optimal. Terbukti, program yang diadakan oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIJ, instansi pemerintah maupun swasta, hanya terisi di bawah 50 persen. Jumlah ini merupakan akumulatif upaya rehabilitasi dari awal tahun hingga 13 Agutus 2018.

Kepala BNNP DIJ Brigjen Pol Tri Warno Atmojo mengakui tidak mudah menerapkan rehabilitasi. Terlebih belum adanya kesadaran dari pengguna. Sementara untuk saat ini jajarannya menerima rehabilitasi atas rekomendasi, salah satunya dari jajaran kepolisian.

“Rehabilitasi bisa diterapkan jika penyalahguna mau atas kesadaran diri sendiri. Sasaran kami adalah pengguna baru atau masih dalam taraf coba-coba. Tapi jika sudah tersandung kasus untuk ketiga kali, tidak bisa direhabilitasi,” tegas Tri Warno, Sabtu (18/8).

Kabid Rehabilitasi BNNP DIJ dr Peni Pertiwi mengungkapkan, keluarga menjadi faktor dorongan utama. Tidak jarang orang tua malu ketika anaknya menjalani rehabilitasi. Padahal langkah ini sangatlah tepat untuk memutus mata rantai ketergantungan.

Berdasarkan data BNNP DIJ, setidaknya dari target 135 rehabilitasi oleh instansi pemerintah hanya terealisasi 49 pasien. Sementara dari lembaga rehabilitasi komponen masyarakat dari 175 pasien hanya terwujud 78 pasien rehabilitasi.

“Untuk yang komponen masyarakat terdiri atas rawat jalan dan rawat inap. Untuk rawat inap target 92 realisasinya 69 pasien, sementara rawat jalan target 83 terealisasi sembilan pasien,” ujarnya.

BNNP DIJ juga melakukan assesmen terpadu bersama kepolisian Polda DIJ. Setidaknya ada instansi, selain BNNP DIJ ada pula BNNK Sleman dan BNNK Jogja. Dari target 85 rehabilitasi, mampu terealisasi 42 pasien. Jumlah ini semakin mengerucut karena delapan pasien tetap menjalani penyidikan.

“Tetap ada pertimbangan karena tidak selamanya assesmen bisa diterima. Terbukti dari 42 pasien realisasi hanya 34 saja yang disetujui. Delapan orang dikembalikan ke penyidik untuk menjalani pemeriksaan,” katanya.

Terkait rehabilitasi ada berbagai pertimbangan terutama kondisi psikis, Peni menuturkan dampak narkotika cenderung menyerang psikis, selanjutnya syaraf. Terbukti beragam efek pemakaian kerap menimpulkan halusinasi bagi pemakainya.

Untuk Jogjakarta, mayoritas pasien rehabilitasi adalah pengguna sabu-sabu. Jenis narkotika ini tergolong marak diperjualbelikan. Terutama di kalangan mahasiswa dan pemakai usia muda. Meski bukan paket besar, keberadaan paket hemat cukup marak.

“Rehabilitasi mengutamakan kognitif behavior terapi, yang bertujuan mengubah perilaku. Keluarga juga jadi kunci utama. Untuk rawat jalan jika optimal rentang waktu dua sampai tiga bulan. Rawat inap lebih lama hingga sembilan bulan, tapi ada yang sampai dua tahun,” jelasnya. (dwi/laz/mg1)