RABU (10/11/2011) dini hari pukul 03.00 waktu Makkah, Arab Saudi, bus yang membawa 30 jamaah pria travel Shafira, Indonesia meninggalkan apartemen di Rusaifah menuju Gua Hira di Jabal Nur. Jaraknya sekitar lima sampai enam kilometer ke arah utara Masjidil Haram.

‘’Hati-hati. Bawa senter mungkin nanti diperlukan di sana,’’ kata Andi Alamsyah, pimpinan Shafira kepada rombongan jamaah sebelum berangkat.
Sepagi itu lalu lintas Makkah yang biasanya macet tampak lengang. Hanya sesekali berpapasan dengan bus lain pembawa rombongan jamaah haji. Hanya sekitar 35 menit bus sudah sampai di kaki Jabal Nur yang berarti Gunung Cahaya itu. Tampak beberapa bus membawa rombongan jamaah dari Turki sudah parkir lebih dahulu di tempat itu.

Dini hari itu suasana di kaki Jabal Nur masih gelap. Maklum baru pukul 03.35 waktu setempat. Namun ratusan orang sudah banyak yang mendaki ke Gua Hira di puncak Jabal Nur dengan ketinggian sekitar 200 meter dari atas permukaan laut.

Dari jalanan aspal langsung menanjak tajam sejak areal parkir bus. Untuk menerangi jalan beberapa orang menggunakan senter. Hebatnya, banyak jamaah wanita Turki meski sudah separo baya, bahkan tergolong sepuh dan memakai tongkat, nekat ramai-ramai ikut mendaki Jabal Nur.

Mereka tampak masih sehat. Itu yang memicu semangat rekan-rekan jamaah Indonesia terus mendaki, menaklukkan Jabal Nur. ‘’Mosok kalah ambek jamaah wedok wong Turki,’’ ujar seorang jamaah dari Surabaya.

Beragam motivasi jamaah mendaki Jabal Nur untuk melihat Gua Hira. Umumnya, mereka ingin merasakan bagaimana susahnya Nabi Muhammad SAW mendaki Jabal Nur kala itu.

Ada juga pendaki yang ingin melihat langsung Rasul menerima wahyu kali pertama dari Malaikat Jibril yakni, Surat Al-Alaq. Juga ada yang ingin salat sunah dan berdoa di tempat Nabi Muhammad suka menyepi di tempat itu. ‘’Mumpung di Makkah, kalau tidak kapan lagi bisa mendaki Jabal Nur,’’ kata Wildan, jamaah asal Madura.

Selepas jalanan aspal menanjak tajam, berganti jalanan batu. Tidak ada undak-undakan maupun pagar pembatas. Jalannya berkelok dan menanjak tajam. Pagi itu pendaki didominasi jamaah asal Turki, baik pria maupun wanita yang rata-rata berbadan besar.

Mereka begitu antusias dibandingkan jamaah negara lain. Kabarnya, perbaikan jalan ke puncak Jabal Nur juga dilakukan orang Turki.

Setelah sepertiga perjalanan ada undak-undakan batu beton. Juga ada pagar pembatas. Jamaah sangat terbantu, terutama yang sudah sepuh. Sambil jalan mereka bisa memegangi pagar pembatas tadi agar tidak tergelincir.

Semakin ke atas jamaah yang mendaki kian padat. Banyak pendaki pria maupun perempuan tampak ngos-ngosan. Begitu juga dengan penulis. Karena itu setelah mendaki beberapa puluh meter biasanya rehat sebentar mengambil napas.
Lalu dilanjutkan pendakian lagi. Begitu seterusnya. Dari atas gunung tampak pemandangan Makkah nan eksotis dengan lampunya yang warna-warni. Makin mendaki ke atas pemandangan kian elok. Makkah dengan kerlip-kerlip lampunya berada nun jauh di bawah sana.

Sepagi itu, beberapa pedagang sudah membuka lapaknya di sepanjang areal pendakian. Mereka memanfaatkan tanah datar sempit untuk menggelar dagangannya berupa aneka suvenir dan tasbih. Umumnya mereka dari Pakistan. Tak jauh dari lapak biasanya disediakan tempat salat yang bisa menampung empat sampai 10 jamaah.

Sepagi itu juga terlihat orang memperbaiki jalan di beberapa tanjakan. Mereka menyemen undakan yang berlubang. Di sampingnya disediakan tempat menampung sumbangan. Penulis melihat hanya satu dua pendaki memasukan recehan real ke semacam topi untuk tempat sumbangan.

Butuh waktu sekitar 40 menit sampai di puncak. Di sini ada warung yang menyediakan cai, minuman khas berupa teh dicampur susu kerbau. Juga ada foto studio mini untuk mengabadikan gambar para pendaki dengan dandanan pakaian Arab. Juga ada tempat salat yang bisa menampung sekitar 10 jamaah.
Meski waktu azan Subuh masih satu jam lagi, gelap, dan sangat padat, jamaah tampak uyel-uyelan berebut turun di Gua Hira yang hanya berjarak sekitar 30 sampai 40 meter.

Tapi, karena jalannya sempit dan menurun tidak semua orang bisa masuk. Mereka hanya bergerombol dan terus berdesak-desakan di pintu menurun menjuju Gua Hira nan sempit. Hanya beberapa menit rombongan pendaki kian padat karena dari bawah gelombang pendaki terus berdatangan. Maka, tempat yang sempit kian padat.

Pendaki yang sudah dibawah Gua Hira tak bisa naik. Sedangkan pendaki yang akan turun ke Gua Hira tak bisa turun. Ratusan pendaki diam di tempat dan uyel-uyelan. Padahal kiri kanan tebing menganga.

Dari puncak Jabal Nur, selain bisa melihat pemandangan kota Makkah nun jauh di sana juga bisa melihat puncak menara Masjidil Haram yang lampunya warna-warni. Juga Royal Clock Tower. (yog/bersambung)