KULONPROGO – Kekeringan tahun ini lebih parah dibandingkan sebelumnya. Sejumlah desa yang dulu terbebas dari kekeringan saat ini mulai kiris air bersih.
“Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh dan Desa/Kecamatan Pengasih tahun lalu aman. Tapi tahun ini mengajukan permohonan droping air bersih. Sumber mata air di desa setempat kering,” kata Koordinator Droping Air Tagana Kulonprogo Ibnu Wibowo, Minggu (19/8).

Menurut dia, kekeringan semakin meluas. Sebab hujan yang tidak kunjung turun dan air dari Saluran Irigasi Kalibawang belum mampu mengisi sumur warga. Irigasi teknis (Intek) Kalibawang yang diandalkan warga empat kecamatan (Kalibawang, Nanggulan, Pengasih, dan Sentolo) belum maksimal memasok air.
“Sudah ada 25 desa di empat kecamatan tersebut dilanda kekeringan,” ungkap Ibnu.

Selain Desa Gerbosari, Desa Salamrejo yang sebelumnya tidak bermasalah dengan kekeringan sejak Juni mengajukan permohonan droping air. “Di Kecamatan Samigaluh bahkan hanya satu dari delapan desa yang tidak kekeringan yakni Pagerharjo. Karena mata airnya masih mengeluarkan air,” jelasnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo Ariadi mengatakan ada enam armada tangki droping air disiapkan. Pasokan air bersih mengandalkan PDAM Kulonprogo. Dana yang digunakan dari anggaran Coorporate Sosial Responsibilities (CSR) dan dana tak terduga milik Kulonprogo pasca penetapan status darurat bencana kekeringan.
“Enam unit armada tangki itu di antaranya milik PMI, Tagana, dan milik kami, semua jalan,” ujar Ariadi. (tom/iwa/mg1)