Di era modern ini, telah terjadi suatu pergeseran di berbagai sendi kehidupan. Bahkan, segalanya sudah serba digital. Akibatnya, gawai menjadi kebutuhan primer setiap orang. Tak terkecuali untuk anak-anak.

Dampaknya, anak menjadi malas bergerak. Bahkan yang terparah komunikasi dan sosialisasinya juga kurang. Padahal, banyak kegiatan yang bisa dilakukan di luar ruangan.

Padahal, bermain menjadi salah satu altermatif untuk bersosialisasi. Permainan tradisional, contohnya, dapat menjadi salah satu pilihan. Sayangnya, banyak orang kini enggan mengenalkan permainan tradisional. Alasannya, ingin mengikuti perkembangan zaman.

NOSTALGIA: Berbagai macam dolanan anak dikenalkan dan dijual. Mengingatkan kembali nostalgia dan kejayaan masa lalu.
MENGHITUNG: Permainan dakon menjadi salah satu permainan yang mengajarkan ketelitian dan kecermatan.

Jika ditengok ke belakang, permainan tradisional ini banyak sekali manfaatnya. Bukan hanya itu, permainan tradisional juga kaya pelajaran dan nilai-nilai. Dan yang tidak kalah penting, hingga saat ini, permainan tradisional masih relevan dengan perkembangan zaman.

Berangkat dari itu, Isa A Prasetya, 26, bersama kelima temannya yakni Budi Susilo, Awis Citra, Filisia Gones, Syaukat Akmal, Agung Apriansyah, dan Luluk Nurnaini, berusaha mengenalkan kembali permainan tradisional lewat Dolanan Anak Jogja (DAJ). “Motif kami sebenarnya ingin ngelakoni budaya yang ada dan mengenalkan kembali budaya,” tutur Isa.

LENGKAP: Para personil Dolanan Anak Jogja (DAJ) saat membuka stand di Pasar Seni Gabusan beberapa waktu lalu.

Isa menilai, saat ini anak-anak cenderung sibuk dengan gawainya. Sehingga sejak Juli 2017, dia berinisiatif untuk membuat, menjual serta menyediakan jasa permainan dolanan anak. “Ada yang kami jual dan ada yang kami sediakan sebagai jasa,” tuturnya.

DAJ, bagi Isa, bukan hanya sekadar usaha untuk meraup keuntungan. Lebih dari itu, kepedulian terhadap budaya merupakan motor utama. “Miris jika nantinya generasi milenial tidak mengenal akar budayanya,” kata Isa prihatin.

Selama ini, kendalanya terletak pada proses produksi. Memang, beberapa mainan tradisional dapat dia buat bersama koleganya. Namun, keterbatasan bahan dan personil menjadi kendala. Selain itu, minimnya data tentang jenis mainan tradisional juga menjadi persoalan tersendiri.

Anggapan orang tua yang menilai dolanan anak berbahaya untuk keselamatan juga menjadi tantangan tersendiri. “Kendala malah dari orang tua, kadang menganggap egrang berbahaya tapi sebenarnya dalam permainan itu melatih keseimbangan dan koordinasi setiap anggota tubuh,” bebernya.

Sebenarnya, kata Isa, banyak sektor yang bisa terbantu dalam usaha yang baru dirintisnya ini. Mulai dari usaha pelestarian budaya hingga sektor perajin. Dia menilai, banyak perajin dolanan anak yang saat ini masih berjuang untuk meningkatkan taraf hidupnya. “Bahkan pernah kami beli yoyo, per satuannya hanya dihargai Rp 3 ribu,” tuturnya.

Kini, setiap ada even yang berkaitan dengan anak, dia bersama kawan-kawannya hampir pasti ikut terlibat. Beberapa mainan tradisional yang dia tawarkan yaitu gasing, yoyo, egrang, bakiak, kelereng, dakon, engklek, bekel, gobak sodor, ketapel, sempritan, yeye, dan lompat tali.

Dia berharap, dengan hadirnya DAJ ini dapat menjadi suatu alternatif hiburan di tengah penatnya rutinitas. “Bukan hanya dapat dimainkan anak muda saat ini tapi juga generasi di atas kami. Ya, semacam nostalgialah,” harapnya. (har/din/mg1)