Orang Tua dan Sekolah Harus Ikut BIAS
BANTUL – Masih ingat dengan kejadian luar biasa (KLB) difteri di 11 provinsi pada 2017? Saat itu nyaris seluruh provinsi di pulau Jawa seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat terkena wabah penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium Diptheriae tersebut. Namun, DIY saat itu seolah “dilompati” alias aman.

Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Abednego Dani Nugroho mengingatkan, nihilnya kasus difteri di DIJ khususnya di Kabupaten Bantul saat itu tidak kebetulan. Pun saat ini. Sebab, munculnya wabah difteri di berbagai provinsi itu akibat minimnya partisipasi masyarakat mengikuti program imunisasi. Berbeda dengan di DIY. Angka kepesertaan rata-rata mencapai 95 persen.
“Sehingga pagar imunisasinya kuat,” jelas Abed, sapaannya, di kantornya pekan lalu.

Ya, imunisasi tidak hanya melindungi anak yang disuntik vaksin. Lebih dari itu juga anak-anak di sekitar mereka. Menurutnya, imunisasi memiliki manfaat sosial. Namanya herd community. Semakin banyak anak yang diimunisasi potensi penularan penyakit ini kian minim. Sekalipun di lingkungan mereka ada anak yang terjangkiti difteri. Sebab, herd community ini berfungsi layaknya pagar untuk mencegah penularan.
“Nah, anak-anak yang telah diimunisasi ini tidak akan menjadi agen penular, sehingga difteri tidak menjalar,” ucapnya.

Karena itu, Abed mendorong orang tua dan sekolah benar-benar memanfaatkan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) kali ini. Apalagi, difteri maupun penyakit lainnya seperti campak sangat berbahaya terhadap anak. Bisa mengakibatkan pada kematian. Biasanya, penderita difteri biasanya memiliki beberapa ciri. Antara lain, sakit tenggorokan, batuk dan suara serak, serta timbul lapisan tebal berwarna keabu-abuan di teggorokan. Adapun gejala campak biasanya batuk, pilek, dan beleken. Bahkan, campak pada anak bisa berujung komplikasi pneumonia hingga menengitis.

Nah, program yang digulirkan pemerintah pusat tahun ini terbagi dalam dua tahap. Pertama, Agustus-September berupa imunisasi campak. Sasarannya adalah anak kelas I sekolah dasar dan sederajat alias berusia tujuh tahun. Jumlahnya mencapai 14.528 anak. Mereka dari 428 SD dan sederajat se-Bantul. Teknisnya, puskesmas bakal mendatangi satu per satu sekolahan.
“Tapi pelaksanaan imunisasi tergantung sekolahan. Bisanya kapan,” ujarnya.
Tahap kedua dilaksanakan Oktober-November. Menurutnya, ada dua sasaran imunisasi dalam tahap ini. Pertama, siswa kelas II SD dan sederajat. Jumlahnya mencapai 13.567 siswa. Kali ini, siswa yang menginjak usia delapan tahun mendapatkan vaksin berupa tetanus diphteria (Td). Tahap kedua adalah ulangan. Sasarannya siswa kelas I SD. Adapun vaksinnya adalah diphteria tetanus (Dt).
“Yang membedakan Dt dan Td adalah dosisnya,” ungkap dokter yang lihai memainkan alat musik keyboard ini.

Terkait perbedaan dengan BIAS 2017, Abed mengungkapkan, sasaran program imunisasi serentak tahun ini hanya sampai kelas II SD. Sedangkan tahun lalu hingga kelas III SD. Alasannya, perlindungan terhadap anak sudah merata.
“Beberapa tahun lalu malah sampai kelas IV,” lanjutnya.
Ketika disinggung mengenai target BIAS 2018, Abed menargetkan mencapai 98 persen. Meski angka aman capaian imunisasi di kisaran 95 persen. Toh, semakin banyak cakupan kian lebih baik.
“Tahun lalu di angka 98,7 persen,” sebutnya. (**/zam/mg1)