Museum Sekartaji berada di Dusun Kanutan RT 08, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul. Museum dikelola secara swadaya. Museum budaya ini menyajikan beragam informasi seputar wayang beber. Sekartaji menjadi satu-satunya museum di DIJ yang konsen melestarikan wayang beber.

KUSNO S UTOMO, Bantul

“Wayang beber sesungguhnya babon atau induk dari wayang yang ada. Wayang beber eksis jauh hari sebelum wayang kulit. Babon-nya wayang ada di wayang beber,” ungkap Indra Setiawan atau yang lebih dikenal dengan Indra Suroinggeno.

Pemilik sekaligus pengelola Museum Sekartaji ini bercerita sejarah wayang beber berkembang di masa Kerajaan Mataram, berpusat di Kartasura. Tepatnya di era Susuhunan Paku Buwono II.

Indra bercerita, wayang beber sungguh istimewa dibandingkan jenis wayang lain di Nusantara. “Isinya hasil asli karya kearifan lokal berupa beberan cerita Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji,” ungkapnya.

Museum Sekartaji menempati sebuah rumah sederhana berbentuk limasan. Rumah itu sejarahnya milik eyang Indra yang sempat ambruk saat gempa 2006 silam. Di dalam museum itu, Indra melestarikan sentong milik eyangnya.

Museum diresmikan Bupati Bantul Suharsono pada 1 Oktober 2017. Museum Sekartaji juga menyimpan masterpiece (karya agung). Salah satunya hikayat panji Kuda Semirang bernuansa dasasila. Bentuknya berupa lukisan wayang beber sepanjang 10 meter.

Koleksi ini tergolong unik karena selama ini wayang beber lebih dikenal dengan Wayang Beber Pacitan (Joko Kembang Kuning) dan Wayang Beber Remeng Mangunjaya yang berada di Wonosari.

Indra juga punya alasan khusus membangun Museum Sekartaji di Bantul. Ada sejarah panjang lahirnya nama Bantul dalam Babad Mataram. Kisahnya terjadi saat Raja Mataram pertama Panembahan Senopati hendak menundukkan Ki Ageng Mangir.

Untuk melumpuhkan Mangir, Senopati mengutus putri sulung Ratu Pembayun menyamar sebagai waranggana atau semacam penyanyi yang tergabung dalam grup kesenian wayang beber. Saat melihat pementasan wayang beber itu, Ki Ageng Mangir jatuh cinta dengan Pembayun. Tak lama kemudian Pembayun diperistri. Mangir baru tahu Pembayun anak musuh politiknya saat istrinya hamil. Intrik politik itu berakhir ketika Mangir menghadap mertuanya ke Kotagede yang menjadi pusat Kerajaan Mataram.

Kisah soal Mangir dan Pembayun itu diungkapkan kembali oleh Indra ketika mendapatkan kunjungan Ketua Komisi Seni Budaya Nusantara (KSBN) DIJ Irjen Pol (purn) Haka Astana Mantika Widya, Selasa (14/8) lalu.

“Saya merasa senang dan haru mendapatkan kehormatan karena Pak Haka kersa rawuh (bersedia datang, Red) ke Museum Sekartaji,” ucap Indra yang terlihat kaget dengan kedatangan Kapolda DIJ periode 2013-2014 itu.

Dia kemudian memersilakan Haka melihat lebih dekat koleksi Museum Sekartaji. Selain lukisan wayang beber, di museum itu juga ada seperangkat gamelan. Alat musik tradisional itu biasa digunakan berlatih anak-anak. Indra juga punya sanggar Bhuana Alit. Di sanggar itu anak-anak biasa melantunkan mars lagu Museum Sekartaji.

Hari-hari alumni Seni Kriya ISI Jogja itu lebih banyak dihabiskan mendalang dan melukis wayang beber. Indra sekarang sedang merampungkan satu karya tentang Ratu Kidul. Karya itu sempat dipamerkan di hadapan Haka yang datang didampingi istri dan sahabatnya semasa SMP. “Ini mata Ratu Kidul perlu disempurnakan,” saran mantan Asisten SDM Kapolri itu.

Haka mengaku bangga dengan konsistensi Indra. Keberadaan Museum Sekartaji merupakan upaya menjaga, merawat dan melestarikan wayang beber dari kepunahan. “Saya senang karena museum wayang beber ini diinisiasi anak muda seperti Mas Indra,” katanya.

Langkah Indra itu sejalan dengan visi dan misi KSBN. Terutama dalam upaya mengembangkan dan melestarikan seni budaya Nusantara. Dari Museum Sekartaji, kunjungan ketua KSBN DIJ dilanjutkan ke situs Gilang Lipura di Gilangharja, Pandak. Lokasinya tak begitu jauh dari Museum Sekartaji.

Gilang Lipura dipercaya sebagai tempat Panembahan Senopati mendapatkan wahyu keraton. Semula akan menjadi pusat kerajaan. Karena lokasinya berdekatan dengan kediaman Mangir, Senopati membatalkan dan memindahkan ke Kotagede.

Tempat ini kali pertama ditemukan di masa Susuhunan Paku Buwono II. Awalnya berbentuk danau. Atas perintah Paku Buwono II, danau itu ditimbun dengan tanah. Di atasnya kemudian berdiri sebuah bangunan dan diberi nama Petilasan Pasujudan Gilanglipura. (laz/mg1)