JOGJA – Perihatin dengan anak-anak yang lebih memilih bermain gadget daripada mainan tradisional membuat beberapa komunitas dan masyarakat tergerak. Salah satunya komunitas Kampoeng Hompimpa Jogja dan warga Karangkajen Brontokusuman Mergangsan dengan Kampung Sains.
Ketua Kampoeng Hompimpah Jogja Hanif Ibrahim mengatakan dampak negatif dari hal tersebut banyak. Mulai dapat membuat IQ dari anak dapat berjalan lambat, dapat merendahkan jiwa sosial pada anak, dan membuat emosional anak menjadi tidak terlatih.

“Tujuan kami di sini untuk menghindarkan dari hal tersebut dan mengembalikan mainan tradisional,” ungkapnya di sela car free day di Gondokusuman, Minggu (19/8).

Kampoeng Hompipa Jogja mengenalkan permainan tradisonal dengan cara membuka lapak di suatu kegiatan, seperti pada Car Free Day, Alun-Alun utara maupun selatan, Mall, bahkan di sekolah-sekolah Jogja. Saat ini komunitas tersebut mempunyai pengurus sebanyak 24 anggota dan 50 voulenteer yang dengan senang hati akan mengenalkan mainan tradisional.

“Kita melakukan kegiatan di tempat yang banyak anak-anak,” ujarnya.
Mainan tradisional yang diperkenalkan berupa egrang, gangsing, bakiak, masak-masakan, telepon kaleng dan berbagai jenis lainnya, yang akan diperkenalkan secara gratis untuk anak agar mainan ini tidak punah.

“Selain bermain, anak-anak juga dapat berinteraksi antar sesama”terangnya.
Bersamaan di Kampung Sains Karangkajen digelar Festival Kampung Sains. Founder Analisa Personality Development Center (APDC) Analisa Widyaningrum mengatakan Festival Kampung Sains mampu terselenggara karena diskusi yang dilakukan dengan Dinas Pendidikan Kota Jogja. Kampung Sains adalah suatu tempat kegiatan belajar-mengajar matematika dan sains dalam suasana non-formal, menyenangkan namun mengedukasi. “Kami menginisiasi Festival Sains ini berawal dari diskusi beberapa waktu lalu dengan Dinas Pendidikan Kota Jogja,”ungkapnya. (cr7/mg4/pra/mg1)