BANTUL – Enam desa di tiga kecamatan di Bantul mengajukan dropping air bersih karena kekeringan. Yaitu di desa Srimartani, Srimulyo, dan Sitimulyo Piyungan. Kemudian Wukirsari di Imogiri, serta Muntuk dan Terong di Dlingo.
“Semoga desa terdampak kekeringan tidak lagi bertambah,” ungkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto belum lama ini.

Kekeringan yang dihadapi masyarakat saat ini,jelas dia, akibat kondisi topografi wilayah yang cenderung berbukit. Juga di daerah kekeringan sebenarnya punya sumber air. Tapi, ketika musim kemarau kemarau seperti ini, sumber mata air tersebut kering. Jadi tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. “Sebenarnya tidak masalah sepanjang masih punya sumber mata air. Jika sumber airnya jauh, tinggal didekatkan dengan masyarakat,” katanya.

Intervensi pemerintah,lanjut dia, sebenarnya sudah membawa dampak signifikan untuk penanggulangan kekeringan di beberapa wilayah. Seperti program PDAM dengan pengembangan jaringan. “Sudah banyak wilayah yang terbantu dengan program-program ini. Mungkin tidak bisa sekaligus, tapi bertahap,” tegasnya.

Ke depan Dwi merencanakan program bagi masyarakat untuk membuat bak penampungan air hujan skala besar. Tidak tanggung-tanggung, bak penampungan air ini setidaknya punya kapasitas mencapai 20.000 liter. Bak penampungan ini nantinya bisa dimanfaatkan ketika musim kemarau seperti ini. Ini salah satu solusi di tempat-trempat yang kesulitan sumber mata air. “Cara ini berhasil dilakukan di salah satu daerah kekeringan di Aceh,” tegasnya.
Sedang menurut Koordinator dropping air di Muntuk Yekti Utami sumber air di sana sudah semakin mengecil. Sehingga jalan satu-satunya untuk membantu masyarakat terdampak kekeringan di Muntuk hanya dengan dropping air. “Dropping air dari BPBD biasanya sekali seminggu,” ungkap Yekti. (ega/pra/mg1)