‘’Kalau haji backpacker, haji koboi atau apa lah sebutan jamaah haji model begituan nanti juga banyak ditemukan saat di Mina. Coba sampeyan perhatikan kalau saat lempar jumroh di Mina,’’ kata Ustad Moch Munir Djamil yang sudah belasan tahun membimbing jamaah haji.

Ucapan Ustad Munir benar. Saat sampai di Mina penulis perhatikan hampir di sepanjang jalan menuju Jumarat (tempat melempar jumroh), trotoar, taman, bawah jembatan, hingga pinggir gunung pun dipenuhi ratusan ribu haji backpacker.

Mereka membawa koper atau tas besar dan tidur di sembarang tempat. Keberadaan mereka di Mina jauh lebih banyak dibanding di sekitar Masjidil Haram. Jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu, bahkan ratusan ribu orang. Itu karena hampir semua jalan di Mina dipenuhi haji backpacker. Nyaris tidak ada tempat atau lahan kosong bagi haji backpacker. Pokoknya, dimana ada tempat bisa dijadikan beristirahat atau berteduh di situ dipastikan ada haji backpacker.
Bahkan mereka rela tidur, duduk, atau leyeh-leyeh berdampingan dengan tempat sampah. Bahkan penulis lihat mereka juga makan di tempat yang sama. Tidak jauh dari tempat sampah. Saking banyaknya haji backpacker hingga mereka kesulitan mencari tempat yang sedikit lebih layak.

Menurut Ustad Munir, ada dua kemungkinan soal keberadaan haji backpacker tadi. Mengapa mereka memilih cara demikian. Pertama, mungkin mereka ingin melakukan lempar jumroh. Tapi saat menunggu lempar jumroh berikutnya mereka ingin lokasi menginap tidak terlalu jauh dengan Jumarat. Itu seperti dilakukan Nabi Muhammad SAW.

Kedua, bisa jadi para jamaah haji tadi tidak mendapat tempat atau tenda penginapan karena mungkin tidak terdaftar di panitia haji setempat. Atau mungkin maktabnya terlalu jauh hingga memilih lebih mendekati tempat Jumarat untuk memudahkan lempar jumroh. Meski risikonya harus tidur di sembarang tempat. ‘’Dari tahun ke tahun jamaah model begini kian banyak. Dan, paling banyak ya.. saat di Mina ini,’’ tutur Ustad Munir.

Petugas Saudi Arabia sendiri yang jumlahnya terbatas tampak kewalahan menghadapi jamaah haji model beginian.

Hanya sesekali petugas mengusir jamaah haji yang tidur di sembarangan tempat, terutama di jalan. Apalagi jika mereka sudah keterlaluan. Tidur menutupi jalan dan mengganggu jamaah yang menuju Jumarat . Selebihnya, ya dibiarkan saja karena begitu banyaknya haji model beginian.

Petugas lebih memilih mengatur jamaah di lokasi atau tempat kerumunan jamaah haji yang bisa menimbulkan kerawanan. Seperti di pintu masuk Jumarat atau perempatan, pertigaan jalan yang memungkinkan terjadi kemacetan lalu lintas.

Khusus untuk lalu lintas, petugas cukup tegas. Bus yang menurunkan penumpang tidak boleh lama-lama berhenti karena bisa menimbulkan kemacetan. Setelah mengedrop penumpang, bus diminta segera meninggalkan lokasi.

Begitu sebaliknya, kalau mengambil penumpang harus cepat, tidak boleh parkir terlalu lama. Kalau terlalu lama sopir didatangi petugas lalu di-damprat. Jika tidak segera pergi, bodi mobil dipukul-pukul. Bruk…bruk, sopir pun mau tidak mau harus segera pergi.

Secara kasat mata mereka yang melakukan haji backpacker hampir semuanya warga negara asing. Lebih-lebih jamaah dari Afrika, Timur Tengah, Pakistan, India, dan Bangldesh. Dari Indonesia penulis lihat juga banyak.

Pokoknya, campur baur. Mereka tidak membedakan asal negara atau mengelompokan diri hanya berasal satu negara tertentu. Pokoknya, dimana ada tempat kosong di situ banyak dijumpai haji backpacker.

BERSAHAJA. Jamaah tidurdi jalan menunggu lemapr jumarah di Mina, Arab. (foto bahari)

Bahkan mereka rela kepanasan dan tidak meninggalkan lokasi kemah meski hanya pakai tenda, payung, atau barang seadanya sekadar menghindari sengatan matahari.

Beberapa jamaah rela berpanas ria karena tidak ada tempat berlindung lagi. Namun demikian toh mereka kelihatan sehat-sehat saja. Mungkin mereka sudah terbiasa menghadapi sengatan matahari karena juga berasal dari negara sekitar Timur Tengah atau Asia Selatan yang suhunya relatif panas.

Bandingkan dengan jamaah Indonesia yang umumnya tidak tahan panas. Misalnya, saat jamaah haji Shafira menunggu bus belasan menit karena lalu lintas macet hingga bus tidak segera sampai, ada satu jamaah yang pingsan karena kepanasan. Untung bus segera datang hingga jamaah yang semaput tadi pun digotong ke dalam bus.

Menariknya, kelompok haji backpacker tak hanya dari kalangan kaum muda. Tapi dari semua kelompok umur. Tak jarang mereka sudah berusia lanjut, pakai kereta dorong, bahkan juga terlihat anak-anak yang mengenakan pakaian ihram tidur di samping orang tua mereka.

Bagi orang luar mungkin melihat kondisi mereka yang tidur sembarangan timbul rasa iba. Tapi, tidak demikian dengan mereka. Hal itu sudah lumrah dilakukan banyak jamaah haji dari manca negara. Yang penting mereka bisa memenuhi panggilan Allah.

Soal kebutuhan air minum bagi mereka juga tidak ada masalah. Di sepanjang jalan Jumarat atau tempat lainnya Pemerintah Saudi Arabia, banyak menyediakan kran air minum secara gratis.

Tak heran kran air sepanjang hari dipenuhi para jamaah untuk mengambil air. Ada yang pakai gelas, botol bahkan ember segala.

Sedangkan untuk mandi, pemerintah Saudi juga menyediakan banyak semacam tempat mandi cuci kakus yang mudah ditemukan di jalan-jalan menuju Jumarat.

Soal makan, di dekat Jumarat ada deretan restoran yang menyediakan aneka makanan. Khususnya roti, kebab, dan ayam. Paling besar namanya RM Al Baik. Ramainya bukan main restoran yang buka 24 jam nonstop selama lima hari itu, menyesuaikan waktu lempar jumroh.

Untuk menjaga ketertiban pembeli restoran ini dijaga beberapa tentara. Untuk masuk restoran pembeli harus lewat pintu pagar. Kalau di dalam restoran masih banyak pembeli, pengantre ditahan dulu. Baru setelah agak longgar pembeli tadi disuruh masuk.

Tak ayal terjadi uyel-uyelan. Bahkan tak sedikit pembeli yang tidak sabar memanjat pagar agar bisa cepat masuk restoran. Jika ketahuan petugas mereka pun diusir dan diminta berbaris layaknya pembeli lain.

Selain itu akibat membeludaknya jamaah haji yang masuk Mina secara hampir bersamaan. Termasuk haji model backpacker meninggalkan tumpukan sampah dimana-mana.

Hampir di semua tempat, sudut-sudut Kota Mina tampak tumpukan sampah. Akibatnya, bau tak sedap muncul di beberapa tempat termasuk yang dekat dengan tenda jamaah haji. (yog/bersambung)