Gesekan Biola Iringi Pengibaran Merah Putih

PURWOREJO – Peringatan HUT ke-73 RI menjadi bentuk kegiatan yang berbeda jika dilakukan oleh para seniman. Berkumpul di bawah bendera Dewan Kesenian Purworejo (DKP), puluhan seniman menggelar upacara sendiri di atas pasir Sungai Bogowonto yang tidak teraliri air, Jumat (17/8).

Tidak perlu menggunakan pakaian formal, mereka mengenakan busana
yang menjadi kebanggaan atau pun ciri khas masing-masing. Demikian
halnya dengan inspektur upacara yang juga Ketua DKP Angko Setyarso
Widodo, dia memakai surjan dengan ikat kepala serta sandal gunung.
Ya, pemandangan jauh dari kesan formal memang tampak dari Sungai
Bogowonto, tepatnya di sisi Dung Rong, Kelurahan Pangenrejo
Kecamatan/Kabupaten Purworejo. Bagian sungai yang mengering dan
membentuk lapangan disulap jadi tempat upacara. Tiang bendera hanya
menggunakan bambu petung, sementara alas teks Pancasila, Proklamasi,
dan UUD 1945, memanfaatkan lebar daun jati.

Tak kalah menarik iringan tarikan tali pengibaran Bendera
Merah Putih yakni lagu Kebangsaan Indonesia Raya dilantunkan dari
petikan biola. Saat gesekan dibunyikan, semua mata mengarah ke bendera sambil memberikan penghormatan penuh.

Pengelola Warung Bogowonto Rinto sebelum upacara dimulai
mengatakan, ide menggelar upacara sendiri cukup mendadak.
Setidaknya seminggu sebelum acara dilakukan, pihaknya melontarkan ide
itu ke ketua DKP Purworejo yang langsung diiyakan.

“Saya hanya rasa-rasan saja menggelar sesuatu yang berbeda ke Mas
Angko. Gayung bersambut, dia sepakat. Hanya saja kita awalnya agak
pesimis dengan jumlah pesertanya,” katanya.

Setelah ada kesepakatan penyelenggaraan, pihaknya segera
menginformasikan hal itu kepada teman-teman seniman di Kabupaten
Purworejo. Tidak menggunakan pemberitahuan formal seperti surat
menyurat, namun cukup melalui layanan whatsapp.

“Dan ternyata sambutannya luar biasa. Tidak saja para
seniman, karena masyarakat di sekitar lingkungan ini pun turut serta
mengikuti upacara ini,” tambah Rinto.

Angko Setyarso Widodo mengungkapkan rasa kebanggannya terhadap
pelaku dan penggerak seni di Purworejo yang memiliki ide menggelar upacara peringatan secara khusus dan spesial. Ini menjadi bentuk ekspresi para seniman dalam meluapkan rasa kecitaan terhadap Indonesia.

“Kenapa kita memilih Bogowonto, karena sungai ini memiliki sejarah
panjang di mana menjadi salah satu tempat perjuangan Pangeran Diponegoro
dan pasukannya dalam melawan penjajah,” jelas Angko.

Dengan terbatasnya waktu sosialisasi, Angko melihat masih banyak
kekurangan dalam penyelenggaraannya. Hanya saja hal itu akan
diperbaiki lagi dalam penyelenggaraan di tahun berikutnya.

Usai upacara, seluruh peserta mendapat perjamuan dari panitia peringatan dengan menyantap bersama nasi urap. Tidak hanya sampai di situ, para seniman juga mempertontonkan kemampuannya dalam olah seni di hadapan masyarakat yang hadir. (udi/laz/mg1)