Ada banyak cara untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan sekaligus mengisi hari kemerdekaan. Nah, Bupati Bantul Suharsono punya cara tersendiri. Sesuai dengan kapasitasnya, orang nomor satu di Bumi Projotamansari ini berkomitmen memprioritaskan pembangunan di berbagai sektor. Juga di berbagai wilayah.

Guyub.
(DOKUMEN PRIBADI SUHARSONO)
Koordinasi.
(DOKUMEN PRIBADI SUHARSONO)

“Terutama di pedesaan,” jelas Suharsono di sela meninjau pelaksanaan program Padat Karya di Pedukuhan Ngasem, Timbulharjo, Sewon, Rabu (15/8).
Bagi Suharsono, pedesaan memiliki peran vital. Sebab, kemajuan pembangunan di pedesaan menjadi salah satu tolok-ukur penilaian maju mundurnya wilayah. Tak terkecuali kemajuan Kabupaten Bantul. Itu lantaran pedesaan menjadi salah satu roda penggerak perekonomian. Apalagi, mayoritas warga Bantul tinggal di pedesaan.

Menuju Lokasi.
(DOKUMEN PRIBADI SUHARSONO)

“Ini sesuai dengan tagline pemkab Makaryo Mbangun Deso,” ucapnya.
Atas dasar itu, pensiunan perwira menengah Polri ini berkomitmen memajukan pembangunan di pedesaan. Terutama sarana infrastruktur. Pertimbangannya, keberadaan sarana infrastruktur yang memadai dapat mempercepat berkembangnya berbagai sektor. Seperti perdagangan, pertanian, hingga pendidikan. Akses jalan, misalnya. Dengan akses transportasi yang memadai pengiriman berbagai hasil panen petani ke wilayah perkotaan menjadi lebih cepat.
“Perjalanan siswa ke sekolah atau sebaliknya ketika pulang juga lebih lancar,” ujarnya.

Guna mewujudkan kemajuan pedesaan ini, Suharsono menyebut ada beberapa program yang menjadi andalan. Yang paling mencolok adalah padat karya.
Ya, setiap tahun pemkab melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) rutin mengalokasikan anggaran untuk padat karya. Bahkan, besaran anggaran yang dialokasikan bertambah terus setiap tahunnya. Pada 2018, misalnya, ada 178 titik lokasi padat karya. Tersebar di seluruh wilayah pedesaan.

“Pada 2017 ada 144 titik lokasi. Kemudian pada 2016 ada 112 titik,” sebutnya.
Seratusan titik lokasi padat karya, Suharsono menguraikan, berupa pembangunan sarana infrastruktur. Namun, tidak semua berupa pembangunan jalan dengan cor blok. Melainkan juga berupa pembangunan talut, drainase, hingga jembatan lingkungan.
“Semua infrastruktur ini dibutuhkan warga,” tegasnya.

Berbeda dengan program pembangunan infrastruktur lainnya, padat karya melibatkan warga. Seluruh warga aktif terlibat dan bertanggungjawab dalam pembangunan. Dengan begitu, kualitas infrastruktur padat karya tak perlu diragukan lagi. Bahkan, tak jarang warga berinisiatif secara swadaya menambah anggaran. Dengan cara iuran. Itu bertujuan agar bangunan fisik di wilayah mereka benar-benar di atas standar.
“Padahal, anggaran yang dialokasikan pemkab untuk padat karya sudah besar,” pujinya.

Membaur dengan warga.
(DOKUMEN PRIBADI SUHARSONO)

Menariknya lagi, lanjut Suharsono, padat karya bersifat pemberdayaan. Maksudnya seluruh tenaga kerja yang dilibatkan merupakan warga setempat. Tujuannya agar mereka merasakan dampak ekonomi dari padat karya.
Rerata satu titik padat karya melibatkan 26 pekerja. Dengan begitu, bila ditotal dalam tiga tahun terakhir ada 11.284 warga yang dilibatkan sebagai pekerja dalam padat karya.
“Dan yang diambil sebagai pekerja diprioritaskan keluarga kurang mampu dan setengah pengangguran,” ungkapnya.

Beri Pengarahan.
(DOKUMEN PRIBADI SUHARSONO)

Karena itu, Suharsono menekankan, padat karya sejalan dengan tagline “Makaryo Mbangun Deso”. Juga visi pemkab. Sebab, padat karya tidak hanya menyediakan sarana infrastruktur yang memadai. Lebih dari itu, juga menyejahterakan masyarakat. Karena itu pula, Suharsono intens ikut meninjau pelaksanaan padat karya di berbagai titik.

”Agar nantinya bisa tercipta kemandirian desa,” tambahnya.
Di tempat yang sama, Kepala Bidang Penempatan Kerja, Perluasan Kerja dan Transmigrasi Disnakertrans Bantul Istirul Widilastuti mengungkapkan hal senada. Menurutnya, padat karya memiliki efek domino. Bahkan, Tirul, sapaannya menyebut nilai tanah di pedesaan naik karena padat karya.
“Setelah ada cor blok rata-rata harga tanah di sekitarnya naik,” tuturnya. (zam/mg1)

GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA