Excited, Diana Krall Anggap sebagai Pengalaman baru

JOGJA-Penyanyi jazz international Diana Krall mengaku senang bisa tampil dan menghibur penikmat musik jazz dalam perhelatan Prambanan Jazz. Diana Krall didaulat menjadi penampil utama dalam event tersebut. “Begitu saya diminta tampil di event ini, secara emosional sangat excited,” ujarnya dalam jumpa pers, Jumat (17/8).

Diana menyebutkan, lokasi digelarnya Prambanan Jazz ini juga cukup unik. Ini kali pertamanya dia tampil dengan latar belakang bangunan bersejarah. “Ini pengalaman baru bagi saya. Candi Prambanan merupakan bangunan megah peninggalan sejarah. Akan saya ingat setelah kembali ke negara saya,” ungkap musisi yang pernah meraih dua penghargaan Grammy Award “Best Jazz Vocal Performance” tersebut.

Menurutnya, Prambanan Jazz merupakan pergelaran musik yang dikategorikan event internasional. Sebab, banyak musisi Jazz ternama yang tampil dan dibarengi hadirnya pendengar yang mempunyai cita rasa musik berbeda. Diana akan membawakan beberapa lagu hits-nya malam ini.

CEO Rajawali Indonesia Communication Anas Syahrul Alimi menuturkan, Prambanan Jazz kali ini dihadirkan sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Tahun ini lebih banyak musisi dunia dan tanah air yang mengusung genre musik jazz yang terlibat. “Ada 27 musisi besar nasional maupun international seperti Idang Rasjidi, Indra Lesmana, Syaharani, Monita Tahalea, Fariz RM, Tohpati, dsb,” jelasnya.

Selain Diana Krall sebagai musisi internasional, juga hadir grup vokal asal Irlandia Boyzone yang banyak digandrungi masyarakat era 2000-an. Menariknya, dalam Prambanan Jazz 2018 ini Anas dan Muhidin merilis sebuah buku berjudul “100 Konser Musik di Indonesia” yang mereka tulis bersama. Buku tersebut dijual dengan harga Rp 100 ribu dan seluruh hasil penjualan buku ini akan didonasikan untuk saudara-saudara yang sedang tertimpa bencana di Lombok. “Kami juga ada kids area, perpustakaan, tempat bermain, serta pasar kangen yang bisa dinikmati pengunjung,” imbuhnya.

Anas menyampaikan, saat ini sudah 15 ribu tiket terjual. Dia berharap pengunjung Prambanan Jazz tahun ini bisa mencapai Rp 40 ribu. Ajang musik kelas dunia ini dihelat sejak kemarin hingga besok.

Keseruan Prambanan Jazz Festival 2018 dimulai di Kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, Jumat (17/8). Di hari pertama dari tiga hari penyelenggaraan, di panggung festival show menampilkan Rendi Pandugo, Letto, Iwa K, Java Jive, The Rain, Hivi dan Yura Yunita. Sedangkan di panggung special show ada Tohpati feat Sheila Majid, Marcel, Rio Febria, dan KahitRan.
The Rain memulai acara jam 15.30 dengan apik di Roro Jonggrang stage. Itu bisa dilihat dari antusiasme penonton yang didominasi anak-anak zaman now. Lagu andalan seperti “Dengar Bisikku”, “Terlalu Indah” dan “Terlatih Patah Hati” memanen koor dari penonton.

MENGHIBUR: Penampilan The Rain memberikan pengobat rindu penikmat musik di ajang Prambanan Jazz, Jumat (17/8).
(RIZAL SETYO NUGROHO/RADAR JOGJA)

Penampilan 45 menit mereka seperti masih kurang bagi penggemarnya. “Terima kasih Prambanan Jazz, sebenarnya masih ingin sampai nanti malam. Tapi kami harus ke Papua setelah ini. Mudah-mudahan jadi kenangan indah,” kata Indra Prasta vokalis The Rain.

Lalu di Hanoman stage, sejam berikutnya Letto tampil menghibur penonton. Dibuka dengan “Permintaan Hati”, terasa unik dengan adanya sentuhan aransemen gamelan Jawa. Selain juga personelnya kompak mengenakan pakaian Jawa surjan, lengkap dengan blangkon dan iket kepala khas Bali.

Berikutnya lagu “Lubang di hati” dan disusul dengan lagu “Sandaran Hati”. Noe, frontman Letto mengajak penonton bergoyang setelah lagu tersebut digubah dengan sentuhan dangdut. Dangdut tidak sekadar dangdut. Tapi dangdut koplo, Oa Oe. “Maaf panitia, Letto merusak acara. Prambanan Jazz kok dangdut. Dulu awal kami dikenal, kami disebut band ndeso, nyatane memang ndeso,” ucap Sabrang Mowo Damar Panuluh, nama panjang Noe.

Di sela-sela antar lagu, anak budayawan Emha Ainun Nadjib itu mengajak berinteraksi dengan penonton. Termasuk mengomentari panggung yang berada di sebelah timur Candi Prambanan. Hasilnya, matahari yang masih terik jelang terbenam masih terasa panas. “Maaf yang foto-foto hasilnya backlight. Tapi gegerku yo panas,” katanya.

Selain itu, Letto juga mengajak penonton kembali bergoyang lewat lagu Gundul-Gundul Pacul. Lagu dimainkan dengan irama dangdut dan sentuhan gamelan. “Wes ojo kokehan, mengko panggung sebelah bingung. Iki jazz-jazzan opo dangdutan,” selorohnya. Lalu berturut-turut, lagu yang sudah banyak dikenal seperti “Ruang Rindu”, “Sampai Nanti, Sampai Mati” dan Sebelum Cahaya” menyudahi aksi panggung mereka jelang petang.

Panggung Prambanan Jazz kembali menghibur penonton selepas Magrib. Musisi rap kawakan Iwa K membuat pengunjung kembali berkumpul di depan panggung Hanoman stage. Sementara di Roro Jonggrang stage ada Yura Yunita yang menghibur penonton dengan dominan ABG. Perbedaan itu menunjukkan bahwa panitia memberikan pilihan untuk penonton yang kelahiran 80’an dan milenial.

Penampilan Yura yang diiringi band lengkap dengan saxophone mampu menyihir ratusan penonton. Dia membawakan tujuh tembang diantaranya Harus Bahagia, Intuisi, Takkan Apa, Kataji dan lagu pamungkas Cinta dan Rahasia.

Solois 27 tahun bernama lengkap Yunita Rachman itu mampu membuat suasana Prambanan lebih syahdu. Tembangnya seperti sukses membuat generasi Z itu galau. Seperti saat menyelesaikan lagu Intuisi. “Kalau kita sudah berusaha, tapi ternyata dia memilih sahabat kita rasanya sakit. Tapi tidak apa-apa, cari yang lain,” ungkapnya sebelum masuk lagu Harus Bahagia. (ita/riz/din)