SLEMAN – Pedagang Pasar Godean menggelar upacara bendera bertema kebudayaan, Jumat (17/8). Diikuti seluruh pedagang, buruh gendong dan pengurus pasar.

Peserta menggunakan bermacam-macam kostum. Ada yang mengenakan kostum Arjuna dan Hanoman. Ada pula yang mengenakan kebaya dan kain lurik lengkap dengan blangkon. Komando upacara menggunakan bahasa Jawa halus.

Salah satu pedagang Pasar Godean Harpini, 48, mengaku rela menutup tokonya demi mengikuti upacara tersebut. “Upacara bendera cuma sehari, berdagang bisa tiap hari,” ujar Harpini.

Menurut dia makna berjuang bagi pedagang adalah melayani pembeli dengan baik. “Agar tetap membeli di pasar tradisional,” ujar Harpini.

Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia Komisariat Pasar Godean Rubi Ribut mengatakan upacara tersebut menumbuhkan nasionalisme. “Mengingatkan perjuangan pahlawan,” ujar Rubi.

Kegiatan tersebut juga untuk menjalin silaturahim sesama pedagang. “Kalau gak ada pedagang, sepi pasar tradisional,” ujarnya.

Rubi mengeluhkan banyaknya pasar modern yang bermunculan. Pasar modern mengancam pedagang pasar tradisional. “Pedagang pasar tradisional itu pejuang yang sebenarnya, berjuang untuk bertahan dari modernisasi,” ujar Rubi.

Anggota DPRD DIJ Chang Wendriyanto yang hadir di acara tersebut mengatakan aturan tentang pasar modern harus diperketat. “Kalau pembangunan pasar modern terus dilakukan, bisa habis pasar tradisional,” ujar Chang.

Dia berencana menyampaikan keluhan pedagang ke eksekutif. “Sudah saatnya pemerintah turun tangan, seumpama pasar modern tidak ada izin, lebih baik ditutup,” ujar Chang.

Dia mengapresiasi nasionalisme pedagang pasar Godean. “Saya harap kegiatan yang unik ini bisa diikuti pedagang pasar lain,” ujar Chang. (cr5/iwa/mg1)