Tak jauh dari tempat lahir Sayuti Melik ada sebuah pasar yang juga menjadi saksi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Yakni Pasar Srowolan. Itulah pasar tradisional yang konon pertama kali dibangun di wilayah Jogjakarta.
Jika umumnya pasar dibangun di lokasi strategis, tak demikian dengan Pasar Srowolan. Lokasinya ndhelik (bersembunyi) di tengah Desa Purwobinangun. Bukan tanpa alasan pasar desa yang juga dikenal dengan sebutan pasar perjuangan itu dibangun di tengah desa.

Sudiharjo, 87, warga setempat, mengungkapkan, Pasar Srowolan sengaja dibangun di tempat terpencil guna mempersulit akses penjajah. Dengan begitu, geliat perekonomian masyarakat pada masa itu tetap bisa berjalan aman. Terlebih, pasar seluas 50 x 70 meter persegi itu dulu juga difungsikan sebagai posko para pejuang gerilya. “Saat itu tentara juga banyak yang menyamar sebagai pedagang untuk menyusun strategi perang. Oleh karenanya diberi nama Pasar Perjuangan,” tutur pria kelahiran 1931 itu.

Menurut Sudiharjo, Pasar Srowolan mencapai masa jayanya pada 1948.
Ketika itu, kenang Sudiharjo, telah terjadi peperangan besar. Belanda mengebom daerah Maguwoharjo, Depok. “Waktu clash, hampir semua pasar mati dan hanya di Pasar Srowolan yang ramai,” kenang Sudiharjo yang juga veteran perang kemerdekaan.

Setahu Sudiharjo, Pasar Srowolan berdiri pada 1921. Namun, dia tidak tahu persis waktu pembangunannya. Dia menduga, Pasar Srowolan sudah ada jauh sebelum itu. “Yang saya tahu (pendirian Pasar Srowolan, Red) hampir berbarengan dengan Pasar Ngasem di Kota Jogja,” tuturnya.
Dulu hampir semua pedagang bertemu di pasar itu. Bahkan, tak sedikit pedagang yang terpaksa menjajakan dagangan di luar pasar. Karena saking ramainya pedagang yang berjubel. Ada pedagang makanan, sembako, jajan pasar, hewan, sayur, hingga kayu bakar.

Para pedagang tersebut, menurut Sudiharjo, mayoritas bukan warga Srowolan. Melainkan warga dari luar daerah. “Bahkan ada yang dari Magelang,” ungkapnya.
Nah, di utara pasar tersebut berdiri bangunan kecil yang diklaim sebagai tempat kelahiran Sayuti Melik. Sementara, menurut Tri Sutikna, kerabat Sayuti Melik, rumah kelahiran Sayuti berada di RT 02 Dusun Kadilobo dan sudah dijual kepada orang lain.

Di sebelah bangunan kecil itu ada pendapa kecil tempat berkumpul masyarakat. Lalu, di utaranya lagi ada bangunan bekas gudang garam yang kini menjadi gedung sekolah. “Dulu gudang garam itu dibangun untuk jualan candu. Untuk merusak generasi muda saat itu agar tidak memikirkan politik,” beber Sudiharjo.

Kini kondisi fisik Pasar Srowolan memang masih ada. Dengan sedikit renovasi di beberapa bagian. Namun, gaung kejayaannya sudah lama pudar. Menurut Sudiharjo, pamor Pasar Srowolan mulai surut sejak 1980-an. Kalah mentereng dengan Pasar Pakem atau Pasar Turi yang lebih luas. Bahkan, Pasar Srowolan hanya beroperasi setiap lima hari sekali. Yakni tiap hari pasaran Wage. Itu pun hanya dihuni oleh tiga hingga empat orang pedagang. Mereka menjajakan dagangan cuma sebentar. Mulai 06.30 hingga 09.00. Saat ini lahan pasar justru beralih fungsi sebagai lahan parkir kendaraan. Atau menjadi lokasi outbound wisatawan pengunjung Desa Wisata Banyu Sumilir, yang terletak tak jauh dari pasar. Selain itu, beberapa genting los tampak pecah atau hilang. Bahkan besi-besi penyangga atap sudah mulai keropos. “Saya miris melihat kondisi pasar ini sekarang,” sesal Sudiharjo.

Dia pun berharap agar pasar yang juga disebut sebagai Pasar Kasultanan itu bisa kembali ramai seperti pada masa jayanya dulu. (har/yog/mg1)