Ada dua tantangan besar mengisi kemerdekaan lewat gerakan koperasi. Yakni, membangun koperasi di sektor riil produksi. Serta mendorong anak muda aktif dalam koperasi. Kabid Koperasi, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Sleman Teguh Budiyanta mengatakan, keanggotaan koperasi tak lagi identik hanya bagi para orang tua. Pemerintah terus berupaya mengubah paradigma itu. Koperasi pemuda atau mahasiswa, contohnya.

Menurut Teguh, keterlibatan anak muda dalam koperasi saat ini kian masif. Bahkan, koperasi yang dikelola anak muda bisa mendapatkan hasil lebih bagus. Termasuk koperasi syariah atau semacam baitul maal wat tamwil (BMT). Sedangkan pengembangan koperasi tak lagi dititikberatkan pada kuantitas. Tapi lebih pada peningkatan kualitas. “Makanya kami mendorong koperasi bisa menjadi produsen. Khususnya di sektor pertanian dan kerajinan (UMKM),” ujar Teguh.

Saat ini di wilayah Sleman terdapat 515 koperasi yang eksis. Baik koperasi berskala kecil, menengah, maupun besar. Jenisnya beragam, bergerak di segala sektor. Di antaranya, simpan pinjam, jasa, pemasaran, dan produksi. Persentasenya, 60 persen di sektor konsumen, 22 persen simpan pinjam, dan 18 persen di sektor lain. Karena itu Pemkab Sleman mendorong koperasi sektor riil lebih berkiprah. Diarahkan untuk bermitra dengan perusahaan-perusahaan besar. Supaya selain bisa menghasilkan produk, koperasi juga bisa memasarkan produk tersebut. “Pemerintah berkomitmen mempermudah legalitas koperasi untuk berbadan hukum. Terutama yang bergerak di sektor riil dan UMKM,” tuturnya.

Sekretaris Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Sleman Endah Sri Widyastuti menambahkan, geliat koperasi di sektor riil cukup menjanjikan. Saat ini ada koperasi jasa yang cukup sukses mengelola desa wisata. Misalnya di wilayah Tamanmartani, Kalasan. Koperasi mengelola homestay untuk menampung wisatawan minat khusus. Ada juga koperasi yang mengelola toko kelontong atau minimarket. “Pelaku UMKM akan lebih mudah mengembangkan produksi jika memiliki koperasi,” ujarnya. (*/yog/mg1)